HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Diproyeksi Tertekan Akibat Sentimen MSCI, Rupiah, dan Kebijakan The Fed

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Diproyeksi Tertekan Akibat Sentimen MSCI, Rupiah, dan Kebijakan The Fed
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa/pri..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu akibat kombinasi sentimen global dan domestik.

IHSG pada perdagangan pagi dibuka melemah 94,96 poin atau sekitar 1,38 persen ke level 6.763,94.

MSCI Keluarkan Enam Saham RI dari Indeks Global

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan tekanan terhadap IHSG dipicu keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), pelemahan rupiah, serta kekhawatiran pasar terhadap arah suku bunga Amerika Serikat.

MSCI resmi mengeluarkan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Selain itu, sebanyak 13 saham Indonesia juga keluar dari MSCI Small Cap Index.

"Keputusan ini memperbesar risiko foreign outflow lanjutan dari pasar saham domestik dan semakin menekan sentimen IHSG di tengah pelemahan rupiah yang telah menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS," ujar Liza.

Data Inflasi AS dan Transisi The Fed Jadi Sorotan

Tekanan pasar juga dipengaruhi penguatan dolar AS setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan kenaikan di atas ekspektasi pasar.

Data Consumer Price Index (CPI) AS April tercatat naik 0,6 persen secara bulanan dan 3,8 persen secara tahunan.

Sementara Core CPI naik 0,4 persen secara bulanan dan 2,8 persen secara tahunan.

Kondisi tersebut memicu ekspektasi bahwa bank sentral AS atau The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga acuan.

Pasar juga mencermati proses transisi kepemimpinan The Fed setelah Senat AS mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai anggota Board of Governors melalui voting 51-45.

"Voting untuk posisi chairman diperkirakan berlangsung pekan ini menggantikan Jerome Powell. Mayoritas Demokrat menolak Warsh karena khawatir independensi bank sentral akan terganggu, meskipun Warsh menegaskan dirinya akan tetap independen," kata Liza.

Pelaku pasar turut memantau pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di China yang diperkirakan membahas isu perdagangan, Iran, dan hubungan bilateral kedua negara.

Penulis :
Aditya Yohan