HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Tertekan, Penguatan Eksportir Dinilai Jadi Benteng Ekonomi Nasional

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Tertekan, Penguatan Eksportir Dinilai Jadi Benteng Ekonomi Nasional
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/wsj/am..)

Pantau - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp17.424 per dolar AS pada 5 Mei 2026 dinilai menjadi sinyal rapuhnya fondasi ekonomi domestik meski pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026.

Dalam telaah yang ditulis Prof Dodi Wirawan Irawanto PhD, pelemahan rupiah sekitar 5 persen dalam 12 bulan terakhir tidak hanya dipicu faktor global seperti perang Iran dengan agresi Amerika Serikat dan Israel, tetapi juga dipengaruhi kerentanan struktural ekonomi dalam negeri.

“Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, setiap guncangan global membuat rupiah seakan berdiri hanya dengan tameng tipis, bukan di balik benteng kokoh,” tulis Dodi dalam artikelnya.

Ia menjelaskan penguatan dolar AS terjadi karena mata uang tersebut kembali menjadi aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik global serta kebijakan suku bunga tinggi The Fed.

Ketegangan di Selat Hormuz juga disebut memicu kenaikan harga minyak dunia dan tekanan inflasi impor bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Inflasi Indonesia tercatat melonjak menjadi 4,76 persen secara tahunan pada Februari 2026 dari sebelumnya 3,55 persen pada Januari 2026.

Empat Kerentanan Ekonomi Indonesia

Dodi menilai terdapat empat persoalan utama yang membuat rupiah mudah tertekan saat terjadi gejolak global.

Pertama, pelebaran defisit fiskal dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang yang memicu kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan fiskal nasional.

Kedua, struktur ekonomi Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku, energi, dan sejumlah komoditas pangan sehingga kebutuhan dolar AS tetap tinggi.

Ketiga, daya saing ekspor Indonesia dinilai masih rendah karena didominasi komoditas primer dengan nilai tambah rendah serta biaya logistik nasional yang mahal.

Meski ekspor UMKM sepanjang 2025 telah mencapai sekitar 15 persen dari total ekspor Indonesia dan menembus lebih dari 33 negara, kontribusi tersebut dinilai masih tertinggal dibanding Malaysia dan Thailand yang mencapai 28 hingga 30 persen.

Keempat, komunikasi kebijakan ekonomi antarinstansi dinilai belum sepenuhnya selaras sehingga memicu ketidakpastian di pasar keuangan.

Penguatan Eksportir Jadi Solusi Jangka Panjang

Dodi menilai penguatan sektor ekspor menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional menghadapi tekanan global.

Menurut dia, Indonesia perlu membangun “benteng ekonomi” melalui penguatan eksportir dan peningkatan nilai tambah produk ekspor.

Selain itu, penguatan UMKM eksportir juga dinilai penting untuk menopang neraca perdagangan dan memperbesar cadangan devisa nasional.

Ia menekankan bahwa stabilitas ekonomi tidak cukup hanya ditopang pertumbuhan domestik, tetapi juga ketahanan struktur ekonomi terhadap gejolak global.

Penulis :
Ahmad Yusuf