HOME  ⁄  Ekonomi

Defisit APBN April 2026 Menurun Jadi Rp164,4 Triliun, Pendapatan Negara Tumbuh 13,3 Persen

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Defisit APBN April 2026 Menurun Jadi Rp164,4 Triliun, Pendapatan Negara Tumbuh 13,3 Persen
Foto: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersama jajarannya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Mei 2026 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa 19/5/2026 (sumber: ANTARA/Imamatul Silfia)

Pantau - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 30 April 2026 menurun menjadi 0,64 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau sebesar Rp164,4 triliun.

Purbaya menyebut kondisi APBN pada April 2026 menunjukkan perbaikan dibanding bulan sebelumnya yang mencatat defisit 0,93 persen PDB atau Rp240,1 triliun pada 31 Maret 2026.

“Keseimbangan primer dan defisit APBN pada April menjadi lebih baik dibandingkan Maret 2026,” ungkap Purbaya.

Pendapatan Negara dan Pajak Mengalami Pertumbuhan

Pendapatan negara hingga akhir April 2026 tercatat tumbuh 13,3 persen dengan realisasi mencapai Rp918,4 triliun.

Nilai tersebut setara 29,1 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun.

Penerimaan perpajakan tumbuh 13,7 persen dengan realisasi Rp746,9 triliun.

Dari total penerimaan perpajakan tersebut, penerimaan pajak tumbuh 16,1 persen menjadi Rp646,3 triliun.

Sementara penerimaan kepabeanan dan cukai tumbuh 0,6 persen menjadi Rp100,6 triliun.

Purbaya menyatakan pemerintah akan terus mendorong pertumbuhan penerimaan perpajakan agar lebih tinggi.

“Target pertumbuhan penerimaan pajak ke depan diupayakan mencapai 20 persen,” ujarnya.

Ia menilai kinerja penerimaan pajak tahun ini jauh lebih baik dibanding April tahun lalu yang mengalami kontraksi 10,8 persen.

Pendapatan negara bukan pajak (PNBP) juga tumbuh 11,6 persen dengan realisasi mencapai Rp171,3 triliun.

Belanja Negara Naik dan Keseimbangan Primer Surplus

Di sisi belanja negara, realisasi tumbuh signifikan sebesar 34,3 persen menjadi Rp1.082,8 triliun.

Realisasi tersebut setara 28,2 persen dari target APBN sebesar Rp3.842,7 triliun.

Belanja pemerintah pusat tumbuh 51,1 persen menjadi Rp826 triliun.

Purbaya menjelaskan peningkatan tersebut merupakan hasil strategi pemerataan penyaluran belanja pemerintah sepanjang tahun.

Belanja kementerian dan lembaga tumbuh 57,9 persen dengan nilai Rp400,5 triliun.

Sementara belanja non kementerian/lembaga tercatat sebesar Rp425,5 triliun.

Berbeda dengan belanja pemerintah pusat, transfer ke daerah masih mengalami kontraksi 1 persen dengan nilai Rp256,8 triliun.

Keseimbangan primer APBN juga berbalik mengalami surplus setelah sebelumnya defisit.

Nilai surplus keseimbangan primer tercatat mencapai Rp28 triliun.

Purbaya menyatakan surplus keseimbangan primer menunjukkan kondisi fiskal masih cukup memadai dalam mengelola pendapatan, belanja, dan utang negara.

Penulis :
Leon Weldrick