
Pantau - Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Kabupaten Nabire, Papua Tengah menerapkan program dua hari tanpa nasi dalam pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan penyerapan pangan lokal dan mendorong perputaran ekonomi masyarakat.
Kebijakan tersebut merupakan pengembangan dari program sebelumnya yang hanya menerapkan satu hari tanpa nasi dalam menu MBG.
Program dua hari tanpa nasi itu telah berjalan selama dua bulan di Kabupaten Nabire.
Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Nabire Marsel Asyerem mengatakan kebijakan tersebut diambil setelah pihaknya menemukan banyak hasil pertanian lokal tidak terserap pasar.
"Dari hasil dialog di lapangan, banyak komoditas pertanian lokal tidak laku hingga membusuk. Ini yang menjadi perhatian kami," ungkap Marsel.
BGN Tinjau Langsung Keluhan Pedagang Lokal
Kebijakan tersebut disusun setelah BGN meninjau langsung aktivitas perdagangan di Pasar Sore Tapiyoka, Distrik Nabire Kota.
Dalam kunjungan itu, BGN mendengarkan langsung keluhan mama-mama Papua yang berjualan sayur di pasar tersebut.
Menurut Marsel, rata-rata pedagang hanya mampu menjual tiga hingga lima ikat sayuran setiap hari.
Pendapatan para pedagang berkisar antara Rp15.000 hingga Rp25.000 per hari.
Pendapatan tersebut bahkan disebut habis untuk biaya transportasi sehingga pedagang tidak memiliki sisa penghasilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Marsel menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius agar pelaku usaha kecil tetap bisa bertahan.
Menu MBG Diganti Ubi, Singkong, dan Keladi
Dalam pelaksanaannya, menu karbohidrat pada hari tertentu dalam program MBG diganti menggunakan pangan lokal seperti ubi, singkong, dan keladi.
Program tersebut juga disertai peningkatan porsi sayuran dalam menu MBG.
Marsel menegaskan seluruh dapur MBG diwajibkan membeli hasil bumi dari pedagang lokal agar produk mereka terserap pasar.
"Seluruh dapur MBG kami minta wajib membeli dan menyerap hasil bumi dari pedagang lokal agar produk mereka tidak terbuang," ujarnya.
BGN berharap langkah tersebut dapat memperkuat ketahanan pangan berbasis lokal di Papua Tengah.
Program itu juga diharapkan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan mama-mama Papua sebagai pelaku ekonomi kecil.
"Harapannya program ini benar-benar membawa manfaat nyata bagi masyarakat," kata Marsel.
- Penulis :
- Shila Glorya





