HOME  ⁄  Ekonomi

Ekonom Sebut Rupiah Bisa Rebound jika Kebijakan Fiskal dan Moneter Sinkron

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Ekonom Sebut Rupiah Bisa Rebound jika Kebijakan Fiskal dan Moneter Sinkron
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan. ANTARA FOTO/Hasrul Said/sgd/am..)

Pantau - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai nilai tukar rupiah masih memiliki peluang menguat kembali atau rebound jika koordinasi kebijakan fiskal dan moneter berjalan lebih solid.

Fakhrul memperkirakan rupiah berpotensi kembali menguat ke kisaran Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar Amerika Serikat apabila bauran kebijakan atau policy mix pemerintah dan Bank Indonesia membaik.

Pernyataan itu disampaikan di tengah pelemahan rupiah di pasar offshore yang sempat menembus level Rp17.800 per dolar AS saat pasar domestik libur Idul Adha pada Rabu (27/5) dan Kamis (28/5).

“Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (28/5).

Menurut dia, stabilisasi rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada Bank Indonesia sehingga diperlukan pembagian beban atau burden sharing yang seimbang antara kebijakan fiskal dan moneter.

Pasar Soroti Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah dan BI

Fakhrul mengatakan pasar saat ini mencermati konsistensi arah kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia di tengah tekanan ekonomi global.

“Kalau BI sudah mengetatkan kebijakan, tetapi fiscal stance dan komunikasi kebijakan belum sinkron, maka tekanan terhadap rupiah tetap besar,” ujarnya.

Ia menilai koordinasi yang kuat antara otoritas fiskal dan moneter menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

Kenaikan Suku Bunga Dinilai Jaga Kredibilitas Pasar

Fakhrul menilai langkah BI menaikkan suku bunga penting untuk memulihkan kredibilitas pasar dan menjaga stabilitas inflasi jangka menengah.

Menurut dia, kebijakan tersebut menunjukkan keseriusan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“BI mulai kembali ke pendekatan pre-emptive, front loading, dan ahead the curve seperti era 2018,” kata Fakhrul.

Ia juga menilai penguatan fundamental ekonomi domestik tetap diperlukan agar tekanan terhadap rupiah dapat berkurang di tengah ketidakpastian global.

Penulis :
Aditya Yohan