HOME  ⁄  Ekonomi

Fakhrul Fulvian: Rupiah Berpeluang Rebound ke Kisaran 16.800–17.000 Jika Kebijakan Fiskal dan Moneter Solid

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Fakhrul Fulvian: Rupiah Berpeluang Rebound ke Kisaran 16.800–17.000 Jika Kebijakan Fiskal dan Moneter Solid
Foto: Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan. (sumber: ANTARA/Hasrul Said)

Pantau - Nilai tukar rupiah dinilai memiliki peluang untuk kembali menguat atau rebound apabila bauran kebijakan fiskal dan moneter Indonesia berjalan lebih baik menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian.

Ia menyebut penguatan rupiah berpotensi kembali ke kisaran 16.800 hingga 17.000 per dolar Amerika Serikat jika koordinasi kebijakan fiskal dan moneter berlangsung solid.

Rupiah di pasar offshore dilaporkan sempat menembus level sekitar 17.800 per dolar Amerika Serikat saat pasar domestik libur Idul Adha 1447 Hijriah.

Fakhrul menilai pelemahan rupiah saat ini terlalu dalam jika dibandingkan dengan kapasitas fundamental ekonomi Indonesia.

Dinamika Rupiah di Pasar Global

Ia menegaskan stabilisasi rupiah tidak dapat hanya dibebankan kepada Bank Indonesia sehingga diperlukan keseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter.

Ia menyebut pasar sangat memperhatikan konsistensi arah kebijakan antara pemerintah dan bank sentral dalam menghadapi tekanan global.

Menurutnya, jika kebijakan moneter sudah ketat tetapi kebijakan fiskal dan komunikasi belum sinkron maka tekanan terhadap rupiah tetap tinggi.

Kebijakan Moneter dan Fiskal

Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga kredibilitas bank sentral serta stabilitas rupiah dan inflasi jangka menengah.

Fakhrul menilai Bank Indonesia kembali menggunakan pendekatan kebijakan yang lebih pre-emptive, front loading, dan ahead the curve seperti pada tahun 2018.

Ia menekankan kebijakan fiskal Indonesia juga perlu menyesuaikan dengan kondisi global seperti inflasi struktural yang lebih tinggi, fragmentasi geopolitik, serta kenaikan biaya energi.

Ia mengingatkan pasar obligasi sangat sensitif terhadap persepsi arah kebijakan fiskal dan risiko pembiayaan APBN.

Jika kepercayaan investor menurun maka imbal hasil obligasi berpotensi naik akibat meningkatnya premi risiko.

Ia juga menilai struktur suku bunga domestik belum sepenuhnya sehat karena suku bunga instrumen moneter yang tinggi dapat menyerap likuiditas.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya dana dan menekan penyaluran kredit ke sektor produktif jika berlangsung terlalu lama.

Ia menyarankan agar setelah stabilitas tercapai kurva imbal hasil obligasi negara kembali dinormalisasi untuk mendorong aliran modal secara bertahap.

Ia menekankan pentingnya membangun struktur ekonomi yang lebih tahan terhadap guncangan atau anti-fragile.

Ia juga menyerukan pembagian beban yang lebih seimbang antara fiskal, moneter, sektor energi, dan sektor riil agar rupiah tidak terus menjadi penanggung utama tekanan ekonomi.

Penulis :
Arian Mesa