
Pantau - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai penguatan industri bahan baku domestik menjadi faktor penting untuk menjaga daya tahan industri manufaktur nasional di tengah meningkatnya tekanan biaya produksi akibat gejolak geopolitik global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan kinerja industri manufaktur masih mencatat pertumbuhan positif pada triwulan I 2026 meski tekanan mulai terlihat sejak Maret tahun ini.
“Kalau kita melihat secara triwulan I secara keseluruhan agregat masih positif, masih 5 persen,” ungkap Faisal.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan industri pengolahan tumbuh 5,04 persen secara tahunan pada triwulan I 2026 dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen.
Tekanan Global Tingkatkan Biaya Produksi
Faisal menjelaskan indikator Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia sempat mencapai level 53,8 pada Februari 2026 sebelum turun ke level 49,1 pada April 2026 dan kembali masuk zona kontraksi.
Menurutnya, penurunan tersebut dipicu oleh meningkatnya biaya bahan baku, logistik, dan asuransi akibat konflik global serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Biaya produksi meningkat karena faktor perang, meningkatkan biaya perolehan bahan baku dan logistik,” katanya.
Berdasarkan kajian CORE Insight, sekitar 70 persen impor Indonesia masih berupa bahan baku dan komponen industri sehingga gangguan rantai pasok global dan fluktuasi nilai tukar sangat memengaruhi biaya produksi di dalam negeri.
CORE juga mencatat sekitar 85 persen bahan baku farmasi nasional masih bergantung pada impor dari India dan China.
Petrokimia, Baja, dan Tekstil Jadi Prioritas
CORE menilai kondisi tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat struktur industri bahan baku dalam negeri agar manufaktur nasional lebih tahan terhadap tekanan eksternal.
Faisal menyebut sektor petrokimia berbasis nafta, industri besi dan baja, serta tekstil dan produk tekstil menjadi sektor strategis yang perlu mendapat perhatian.
Petrokimia berbasis nafta dinilai penting karena menjadi bahan baku utama industri tekstil dan plastik, sementara industri besi dan baja berperan dalam menopang rantai pasok manufaktur dan konstruksi nasional.
Industri tekstil dan produk tekstil juga dianggap strategis karena menyerap sekitar 3,76 juta tenaga kerja atau sekitar 19 persen dari total tenaga kerja manufaktur nasional.
“Pemerintah perlu memberikan ruang untuk industri manufaktur bergerak lebih baik dan meringankan beban daripada peningkatan biaya produksi serta menjaga akses pasar domestik,” ujar Faisal.
CORE Usulkan Dukungan Kebijakan
Untuk memperkuat daya saing industri, CORE mengusulkan sejumlah langkah kebijakan seperti relaksasi bea masuk bahan baku strategis, percepatan restitusi pajak, serta pemberian subsidi input bagi industri yang masih sehat namun tertekan oleh kenaikan biaya produksi.
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong penguatan struktur industri nasional melalui program hilirisasi dan pengembangan industri bahan baku domestik, khususnya pada sektor petrokimia dan baja.
Pemerintah juga menargetkan investasi hilirisasi mencapai sekitar Rp3.800 triliun pada berbagai komoditas prioritas guna memperkuat rantai pasok industri nasional dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





