HOME  ⁄  Ekonomi

Pengamat ITB Sebut Blackout Sumatra Tunjukkan Tantangan Sistem Listrik di Tengah Variabilitas Cuaca

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Pengamat ITB Sebut Blackout Sumatra Tunjukkan Tantangan Sistem Listrik di Tengah Variabilitas Cuaca
Foto: Arsip - Aktivitas pedagang di Pajus Medan, Sumatera Utara kembali berjalan normal setelah PLN berhasil melakukan pemulihan sistem kelistrikan secara bertahap pascagangguan pada jaringan interkoneksi Sumatra. (sumber: PLN UID Sumatera Utara)

Pantau Pemadaman listrik massal atau blackout yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatra dinilai menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi sistem interkoneksi kelistrikan modern, terutama di tengah meningkatnya variabilitas cuaca akibat perubahan pola iklim.

Pengamat sistem tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjar Nahor, menjelaskan bahwa sistem transmisi tegangan tinggi sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan seperti temperatur, kecepatan angin, curah hujan, dan tingkat kelembapan.

Variabilitas Cuaca Tingkatkan Kompleksitas Operasi Jaringan

Kevin mengungkapkan bahwa kondisi cuaca kini menjadi parameter penting yang harus diperhitungkan dalam pengoperasian jaringan transmisi tenaga listrik modern.

Ia menjelaskan bahwa perubahan pola iklim membuat kondisi cuaca semakin dinamis dan sulit diprediksi sehingga operator sistem harus mempertimbangkan lebih banyak skenario operasi untuk menjaga stabilitas jaringan interkoneksi berskala besar.

Menurutnya, perubahan iklim tidak selalu menjadi penyebab langsung terjadinya gangguan sistem, namun meningkatnya variabilitas cuaca dapat menambah tingkat kesulitan dalam pengelolaan jaringan transmisi.

Kevin menegaskan bahwa gangguan pada sistem interkoneksi besar umumnya tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi berbagai kondisi yang terjadi secara bersamaan.

Ia menjelaskan bahwa gangguan lokal berpotensi berkembang menjadi cascading disturbance atau gangguan berantai apabila memengaruhi aliran daya dan stabilitas sistem secara keseluruhan.

Peran Teknologi dan Penguatan Infrastruktur

Kevin mengatakan sistem proteksi otomatis pada jaringan interkoneksi dirancang untuk melindungi pembangkit dan jaringan transmisi ketika terjadi gangguan serta mencegah kerusakan yang lebih luas.

Ia menambahkan bahwa semakin besar sistem interkoneksi, semakin tinggi pula kompleksitas pengelolaan stabilitas jaringan meskipun sistem tersebut memberikan efisiensi dan fleksibilitas distribusi energi yang lebih baik.

Menurutnya, penggunaan teknologi pemantauan real-time, analisis data sistem, serta inspeksi jaringan menggunakan drone menjadi semakin penting dalam mendukung operasional ketenagalistrikan modern.

Kevin menekankan bahwa pemanfaatan teknologi harus disertai penguatan infrastruktur transmisi dan pembangkitan listrik guna mengurangi kerawanan yang dapat memicu ketidakstabilan sistem.

Ia menyebut perkembangan teknologi monitoring dan proteksi saat ini memungkinkan operator mendeteksi kondisi sistem lebih cepat sehingga respons terhadap gangguan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Kevin juga mengingatkan bahwa tantangan akibat variabilitas cuaca tidak hanya dihadapi Indonesia, melainkan juga negara-negara lain yang mengoperasikan sistem interkoneksi listrik berskala besar.

Sebelumnya, investigasi awal gabungan Bareskrim, Puslabfor, dan PLN mengindikasikan adanya kemungkinan gangguan berasal dari putusnya kabel transmisi pada area sambungan atau mid span jointing yang diduga dipengaruhi kombinasi faktor cuaca dan tekanan mekanis pada jaringan.

Penulis :
Shila Glorya