HOME  ⁄  Ekonomi

Perajin Tahu di Kulon Progo Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Kedelai dan Biaya Produksi

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Perajin Tahu di Kulon Progo Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Kedelai dan Biaya Produksi
Foto: (Sumber: Perajin tahu di Kalurahan Tuksono, Kabupaten Kulon Progo, DIY, tetap berproduksi meski harga kedelai naik. ANTARA/Sutarmi.)

Pantau - Para perajin tahu di Kalurahan Tuksono, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus mempertahankan usaha mereka meski harus menghadapi kenaikan harga kedelai dan berbagai biaya produksi yang semakin membebani.

Sejak pagi hari, mesin penggilingan kedelai tetap beroperasi dan aktivitas produksi tahu terus berjalan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Harga kedelai sebagai bahan baku utama kini mencapai sekitar Rp10.700 per kilogram dan dalam sejumlah kondisi bahkan menembus Rp11.000 per kilogram.

Selain kenaikan harga kedelai, para perajin juga menghadapi peningkatan harga minyak goreng dan kayu bakar yang berdampak langsung pada biaya produksi.

Perajin Pilih Bertahan dan Lakukan Efisiensi

Salah seorang perajin tahu, Afi, mengaku kenaikan harga bahan baku bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi pelaku usaha.

Menurutnya, persaingan dengan produk tahu dari daerah lain yang dijual dengan harga lebih murah menjadi kekhawatiran yang lebih besar.

"Sekarang yang penting bertahan, usaha tetap jalan," ungkap Afi.

Ketua Tahu Nunggal Roso, Mubari, menjelaskan para perajin berada dalam posisi yang sulit karena menaikkan harga berisiko membuat pelanggan beralih ke produk lain.

Di sisi lain, mempertahankan harga jual membuat keuntungan yang diperoleh semakin menipis.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, para perajin melakukan efisiensi dengan mengurangi ketebalan tahu beberapa milimeter tanpa menaikkan harga secara signifikan.

Langkah lain yang dilakukan adalah memperketat proses produksi, mengurangi pemborosan sari kedelai, dan mengoptimalkan seluruh bahan baku yang digunakan.

Dukungan Pemda Beri Harapan Baru

Perajin juga memanfaatkan hasil sampingan produksi untuk menambah nilai ekonomi usaha.

Ampas tahu dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan diolah menjadi tempe gembus yang dapat memberikan tambahan pemasukan.

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo turut memberikan dukungan melalui program business matching yang mempertemukan perajin tahu dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menurut Iffah Mufidati, kerja sama tersebut membuat produk tahu para perajin menjadi bagian dari rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dukungan tersebut memberikan kepastian pasar sekaligus membuka peluang usaha baru bagi pelaku UMKM setempat.

Pemerintah daerah juga membantu membuka jaringan pemasaran daring serta memberikan pelatihan pemasaran digital untuk memperluas jangkauan konsumen.

Bupati Kulon Progo Agung Setyawan disebut mulai memberi perhatian terhadap persoalan yang dihadapi para perajin tahu dan berupaya mencari solusi agar harga kedelai tidak terus menjadi beban bagi pelaku usaha kecil.

Di tengah tekanan ekonomi dan persaingan pasar, para perajin tetap menjaga produksi serta memastikan ketersediaan tahu sebagai sumber protein yang terjangkau bagi masyarakat.

Penulis :
Gerry Eka