HOME  ⁄  Ekonomi

DPR Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Harus Diiringi Ekosistem yang Sehat dan Berkelanjutan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

DPR Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Harus Diiringi Ekosistem yang Sehat dan Berkelanjutan
Foto: (Sumber : Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026). ANTARA/HO-DPR RI.)

Pantau - Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief menegaskan pertumbuhan sektor ekonomi kreatif Indonesia harus didukung ekosistem yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh para pelaku industri kreatif.

Ia menyampaikan hal tersebut saat menanggapi capaian positif sektor ekonomi kreatif yang terus meningkat sepanjang 2025 hingga semester pertama 2026.

"Dari apa yang disampaikan Bapak Menteri (Ekraf), bahwa pertumbuhan ekonomi kreatif naik dengan cukup luar biasa, tetapi ada satu pertanyaan besar, apakah ekosistemnya juga sehat?" kata Hendry.

Investasi dan Ekspor Ekraf Tumbuh Positif

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam rapat kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, investasi sektor ekonomi kreatif pada triwulan I 2026 mencapai Rp11,33 triliun.

Nilai ekspor sektor tersebut juga tercatat sebesar 7,38 miliar dolar AS dengan kontribusi yang terus meningkat terhadap perekonomian nasional.

Meski demikian, Hendry menilai masih terdapat kesenjangan antara pertumbuhan angka makro dengan kondisi nyata yang dihadapi pelaku industri kreatif.

"Dari narasi pertumbuhan saya pikir ini sudah sangat baik dan patut diapresiasi, tetapi ada kondisi realitas ekosistem yang perlu kita perhatikan bersama," ujarnya.

Pembajakan dan Dampak AI Jadi Tantangan

Hendry menyoroti maraknya pembajakan digital yang masih menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan industri kreatif nasional.

"Konten berbayar masih dibajak dan praktik streaming ilegal masih marak. Ini menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan industri kreatif kita," ungkapnya.

Selain itu, ia juga menyoroti rendahnya kesejahteraan pekerja kreatif yang masih menghadapi upah rendah, jam kerja panjang, dan ketidakpastian pekerjaan.

"Kita masih melihat upah yang rendah, jam kerja yang panjang, dan ketidakpastian kerja yang dialami banyak pekerja kreatif," katanya.

Menurut Hendry, perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) juga mulai mengubah lanskap industri kreatif dan berpotensi menggantikan sejumlah pekerjaan.

"AI mulai menggantikan pekerjaan di bidang desain, ilustrasi, animasi, hingga produksi konten. Ini harus menjadi perhatian serius agar transformasi teknologi tidak justru meminggirkan pekerja kreatif Indonesia," ujarnya.

Dorong Kreator Indonesia Menjadi Pemilik IP Global

Hendry menilai ekspor ekonomi kreatif Indonesia masih didominasi subsektor tradisional seperti fesyen, kriya, dan kuliner.

Sementara itu, subsektor berbasis kekayaan intelektual seperti gim, animasi, aplikasi digital, dan film dinilai belum memberikan kontribusi optimal.

"Pertanyaan yang perlu diskusikan bukan lagi berapa besar ekonomi kreatif tumbuh, tetapi apakah pertumbuhan tersebut benar-benar menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang sehat, berkelanjutan, dan mampu melindungi para pelaku ekonomi kreatif," ujar Hendry.

Ia berharap Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mampu melahirkan kreator yang menjadi pemilik intellectual property global.

"Kita ingin kreator Indonesia naik kelas menjadi pemilik intellectual property atau IP global yang mampu bersaing di pasar internasional," ucapnya.

Penulis :
Aditya Yohan