HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Tembus Rp17.926 per Dolar AS, Analis Soroti Geopolitik dan Lonjakan Harga Minyak

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Tembus Rp17.926 per Dolar AS, Analis Soroti Geopolitik dan Lonjakan Harga Minyak
Foto: (Sumber : Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye.)

Pantau - Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (3/6/2026), dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia yang memperkuat posisi dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan harga minyak mentah menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang Garuda.

"Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia, WTI di 94,58 (dolar AS per barel), kemudian Brent crude oil pun mengalami penguatan di 96,72," ungkap Ibrahim.

Selain itu, kebuntuan perundingan antara AS dan Iran serta meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel turut memperburuk sentimen pasar global.

Harga Minyak dan Kebijakan The Fed Jadi Sorotan

Kondisi geopolitik yang memanas memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global sehingga harga minyak bertahan pada level tinggi.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga energi berpotensi menjaga inflasi AS tetap tinggi dan mendorong bank sentral AS atau The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

"Kita lihat bahwa salah satu pejabat dari bank sentral AS, Hammack, yang dia mengatakan bahwa mungkin perlu bertindak segera jika tren inflasi tidak meredah. Artinya apa? Bahwa ini yang mengindikasikan bahwa kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga satu kali dalam tahun 2026," katanya.

Suku bunga tinggi di AS dinilai membuat aset berbasis dolar semakin menarik bagi investor sehingga menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Faktor Domestik Ikut Tekan Rupiah

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai tingginya harga minyak meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi.

Kebutuhan valuta asing untuk pembayaran dividen dan kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo juga disebut memperbesar permintaan dolar di pasar domestik.

Ia juga menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat yang mulai mengalihkan simpanan ke instrumen berbasis valuta asing.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, Ibrahim mendorong pemerintah memperkuat sektor riil melalui industrialisasi, pengembangan ekonomi biru, peningkatan produktivitas pertanian, serta percepatan transformasi digital dan perbaikan iklim investasi.

"Kita harus tahu bahwa pemerintah harus mendorong industrialisasi dan ekonomi biru. Ini yang sangat sulit sekali sampai sekarang. Kenapa? Kita lihat bahwa pembentukan pertumbuhan ekonomi itu 50 persen dari daya beli masyarakat," tuturnya.

Ia menambahkan penguatan fundamental ekonomi dan masuknya investasi asing menjadi langkah penting untuk menopang stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka menengah dan panjang.

Penulis :
Ahmad Yusuf