HOME  ⁄  Ekonomi

Pendapatan MRT Jakarta Tembus Rp1,5 Triliun pada 2025 Didorong Kenaikan Penumpang dan Bisnis Non-Tiket

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pendapatan MRT Jakarta Tembus Rp1,5 Triliun pada 2025 Didorong Kenaikan Penumpang dan Bisnis Non-Tiket
Foto: (Sumber : Penumpang berjalan setelah turun dari MRT Jakarta di Stasiun Bundaran HI, Jakarta, Jumat (2/1/2026). Pemprov DKI Jakarta menyediakan anggaran Rp4,817 triliun untuk subsidi transportasi umum tahun 2026 dari total APBD yang mencapai Rp81,32 triliun. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/bar..)

Pantau - PT MRT Jakarta membukukan pendapatan sebesar Rp1,5 triliun sepanjang 2025 atau meningkat sekitar tujuh persen dibandingkan tahun sebelumnya berkat pertumbuhan jumlah penumpang dan kontribusi bisnis non-tiket.

Pendapatan dan Pengguna MRT Terus Meningkat

Direktur Keuangan dan Manajemen PT MRT Jakarta (Perseroda) Risa Olivia mengatakan, "Pendapatan pada 2025 mencapai Rp1,5 triliun dengan pertumbuhan sekitar tujuh persen dibandingkan tahun sebelumnya."

Menurut Risa, peningkatan tersebut didorong oleh pertumbuhan pengguna MRT Jakarta serta diversifikasi sumber pendapatan perusahaan.

Pendapatan perusahaan berasal dari tiket (farebox), subsidi pemerintah, dan pendapatan non-farebox.

Secara keseluruhan, pendapatan MRT Jakarta mencatat tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata atau compound annual growth rate (CAGR) sebesar 2,3 persen sepanjang periode 2021 hingga 2025.

Sementara itu, kontribusi pendapatan tiket mencatat CAGR positif sebesar 50,4 persen dalam periode yang sama.

Risa mengungkapkan, "Semakin banyak yang menggunakan MRT, nantinya pendapatan tiket bisa semakin meningkat."

Dukungan subsidi pemerintah juga masih menjadi salah satu komponen penting dalam menjaga kualitas layanan dan keterjangkauan tarif bagi masyarakat.

Kinerja Keuangan Tetap Stabil

Risa menuturkan kinerja operasional MRT Jakarta tetap terjaga dengan margin Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) berada pada kisaran 35 hingga 51 persen dalam beberapa tahun terakhir.

"Kinerja operasional perusahaan relatif terjaga dan cukup stabil dalam jangka panjang," tuturnya.

Hingga 2025, total aset MRT Jakarta mencapai sekitar Rp32 triliun yang sebagian besar berasal dari pembangunan infrastruktur transportasi seperti jalur dan stasiun.

Perusahaan juga terus memperkuat pendapatan non-tiket melalui pengembangan kawasan berbasis transit.

Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta Farchad Mahfud mengatakan, "Kami terus mengoptimalkan area komersial dan pengembangan kawasan transit untuk memperkuat pendapatan non-tiket."

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pengelolaan kawasan Blok M Hub yang saat ini menampung sekitar 375 tenant.

MRT Jakarta berharap diversifikasi pendapatan dapat mengurangi ketergantungan terhadap subsidi sekaligus mendukung keberlanjutan operasional perusahaan dalam jangka panjang.

Penulis :
Aditya Yohan