
Pantau - Pemerintah Indonesia menargetkan proses tinjauan teknis (technical review) dalam aksesi keanggotaan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) dapat diselesaikan dalam waktu tiga hingga empat tahun ke depan.
Target tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat bertemu Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann di sela pertemuan OECD Ministerial Council Meeting di Paris, Prancis.
Indonesia Terima 20 Kuesioner dari OECD
Airlangga menjelaskan Indonesia terus menunjukkan komitmen dalam proses aksesi sejak Accession Roadmap diadopsi pada Februari 2024.
“Sejak diadopsinya Accession Roadmap untuk Indonesia pada Februari 2024, Indonesia terus menunjukkan komitmen yang kuat. Dokumen Initial Memorandum yang menyelaraskan regulasi nasional terhadap 240 instrumen hukum OECD pada 26 area kebijakan telah resmi kami serahkan setahun lalu. Ini menjadi cerminan dari prioritas reformasi kami di sektor ekonomi, sosial, dan tata kelola,” ungkapnya.
Pada tahap awal pengumpulan informasi, Indonesia telah menerima 20 kuesioner dari OECD.
Selain itu, OECD juga telah menjalankan Fact-Finding Mission untuk meninjau kebijakan lingkungan hidup dan tata kelola publik di Indonesia.
Airlangga menyebut hasil presentasi ulasan aksesi pertama yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup di hadapan OECD Environment Policy Committee pada April 2026 menunjukkan hasil positif.
Sekitar 60 persen kebijakan lingkungan Indonesia dinilai telah selaras dengan instrumen hukum OECD.
Perkuat Reformasi dan Dukungan Internasional
Pemerintah menyatakan siap mengadaptasi berbagai rekomendasi OECD, termasuk pada sektor energi, perubahan iklim, informasi lingkungan, dan pengendalian polusi lintas batas.
Untuk mendukung implementasi kebijakan, pemerintah juga memperkuat komunikasi dengan kalangan dunia usaha dan serikat pekerja melalui Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) serta Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSBSI).
Airlangga turut menyampaikan apresiasi atas dukungan teknis dan finansial dari tujuh negara mitra yakni Australia, Irlandia, Belanda, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Swiss.
Selain membahas proses aksesi OECD, pertemuan tersebut juga menyoroti dampak konflik internasional terhadap stabilitas harga minyak dan inflasi global.
Airlangga mendorong optimalisasi peran International Energy Agency (IEA) sebagai badan afiliasi OECD untuk membantu koordinasi kebijakan pasokan minyak strategis guna meredam gejolak harga komoditas dunia.
- Penulis :
- Aditya Yohan





