HOME  ⁄  Ekonomi

Investor Global Sesuaikan Risiko, Analis Sebut Pasar Indonesia Sedang Alami Repricing

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Investor Global Sesuaikan Risiko, Analis Sebut Pasar Indonesia Sedang Alami Repricing
Foto: (Sumber : Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07 setelah seharian berkutat di zona merah pada rentang 5.841-6.213. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wsj..)

Pantau - Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia saat ini mencerminkan proses repricing, ketika investor global menyesuaikan ulang penilaian risiko terhadap aset-aset domestik di tengah pelemahan rupiah, koreksi IHSG, dan arus modal asing yang keluar.

Ketidakpastian Kebijakan Jadi Sorotan Investor

Hendra mengatakan investor kini tidak hanya mempertimbangkan potensi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga besarnya risiko yang harus ditanggung saat menempatkan dana di Indonesia.

“Dalam kondisi seperti ini, investor tidak hanya melihat potensi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menilai seberapa besar risiko yang harus mereka tanggung,” ujarnya di Jakarta, Senin (8/6/2026).

Menurut dia, perhatian utama pasar saat ini bukan hanya perlambatan ekonomi, melainkan meningkatnya ketidakpastian terkait arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar rupiah, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan investor.

“Ketika tingkat ketidakpastian meningkat, investor cenderung meminta kompensasi berupa valuasi yang lebih murah sebelum kembali masuk ke pasar,” ungkapnya.

Hendra menambahkan bahwa faktor domestik kini memiliki pengaruh yang semakin besar terhadap pergerakan pasar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya ketika sentimen global menjadi faktor dominan.

IHSG Tertekan Empat Hari Berturut-turut

Meski suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi, penguatan dolar AS, dan ketegangan geopolitik global tetap menjadi tekanan bagi negara berkembang, Hendra menilai kondisi domestik menjadi pembeda utama kinerja pasar masing-masing negara.

“Namun, yang membedakan kinerja masing-masing negara adalah bagaimana kondisi domestiknya,” katanya.

Ia menjelaskan investor global saat ini aktif membandingkan negara-negara emerging market dan cenderung memilih negara dengan kepastian kebijakan lebih baik, risiko fiskal lebih rendah, serta arah pembangunan yang lebih mudah diprediksi.

“Karena itu, ketika tekanan global terjadi bersamaan dengan munculnya berbagai pertanyaan mengenai kebijakan domestik, dampaknya terhadap Indonesia menjadi lebih besar dibandingkan negara lain yang memiliki kondisi fundamental serupa tetapi persepsi risikonya lebih rendah,” ujarnya.

Menurut Hendra, isu seperti outlook peringkat kredit, kebijakan fiskal, Danantara, hingga perubahan regulasi turut memengaruhi persepsi investor, namun faktor utama tetap berada pada konsistensi dan kepastian kebijakan pemerintah.

“Investor pada dasarnya dapat menerima berbagai kebijakan baru selama arah, tujuan dan tata kelolanya jelas,” ungkapnya.

Ia menambahkan pasar cenderung merespons negatif ketika muncul ketidakjelasan terkait implikasi fiskal jangka panjang, pengelolaan aset negara, potensi konflik kepentingan, maupun perubahan regulasi yang dinilai terlalu cepat.

“Dalam dunia investasi, ketidakpastian sering kali lebih ditakuti dibandingkan berita buruk itu sendiri. Investor dapat menghitung risiko apabila datanya jelas, tetapi akan cenderung mengurangi eksposur apabila sulit memperkirakan arah kebijakan ke depan,” katanya.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG pada Senin pukul 10.30 WIB melemah 220,47 poin atau 3,94 persen ke level 5.374,18, melanjutkan tren pelemahan selama empat hari perdagangan berturut-turut.

Penulis :
Ahmad Yusuf