HOME  ⁄  Ekonomi

MOLI Menyiapkan Belanja Modal Rp350 Miliar untuk Mengincar Peluang Program Bioetanol Nasional

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

MOLI Menyiapkan Belanja Modal Rp350 Miliar untuk Mengincar Peluang Program Bioetanol Nasional
Foto: (Sumber : Jajaran direksi PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI) seusai menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Rabu (10/06/2026). (MOLI).)

Pantau - PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI) mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp350 miliar pada 2026 untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memanfaatkan peluang pertumbuhan industri bioetanol seiring implementasi program pemerintah E5 dan E10.

Ekspansi Produksi untuk Mendukung Kebutuhan Bioetanol

Direktur Utama MOLI Jose G. Tan mengatakan dana investasi tersebut disiapkan guna merealisasikan berbagai rencana ekspansi perusahaan.

“Guna mengeksekusi seluruh rencana ekspansi tersebut, MOLI telah mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp350 miliar pada tahun 2026,” ujarnya.

Perseroan menilai kebijakan pemerintah yang akan menerapkan campuran 5 persen fuel-grade ethanol dengan 95 persen bensin mulai Juli 2026 dan meningkat menjadi E10 pada 2028 akan mendorong kebutuhan bioetanol nasional hingga sekitar 1,2 juta kiloliter pada 2030.

Dana capex tersebut akan digunakan untuk investasi peralatan distilasi baru, lini produksi liquid CO2, boiler, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.

“Investasi ini diharapkan bisa meningkatkan kapasitas produksi, mendorong efisiensi proses dan biaya produksi, serta membuka peluang pengembangan produk etanol,” ungkap Jose.

Fokus pada Pasar Khusus di Tengah Tantangan Industri

Selain meningkatkan kapasitas produksi, MOLI juga mengembangkan produk baru melalui riset pasar dan kegiatan penelitian serta pengembangan (research and development/R&D) untuk menciptakan produk bernilai tambah lebih tinggi.

Perseroan mengakui industri etanol nasional masih menghadapi tantangan berupa kelebihan pasokan etanol non-fuel grade di pasar domestik, pengendalian ekspor bahan baku yang belum optimal, dan kenaikan biaya energi.

“Di tengah kondisi oversupply di pasar domestik, perseroan memilih untuk berfokus pada segmen pasar khusus (niche market), yang membutuhkan produk berkualitas lebih tinggi dan menawarkan margin yang lebih baik, terutama di pasar internasional,” kata Jose.

Meski menghadapi tekanan harga etanol dan dampak ekonomi akibat konflik di Timur Tengah, MOLI tetap optimistis terhadap prospek usahanya sepanjang 2026.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Aditya Yohan