HOME  ⁄  Ekonomi

Dadang Naser Soroti Dampak Konflik Dunia terhadap Harga Bapok

Oleh Khalied Malvino
SHARE   :

Dadang Naser Soroti Dampak Konflik Dunia terhadap Harga Bapok
Foto: Anggota Komisi IV DPR RI Dadang Naser saat diwawancarai wartawan, Rabu (10/6/2026). (Dok. Istimewa)

Pantau - Tekanan ekonomi global yang dipicu konflik internasional dan ketegangan geopolitik mulai dirasakan di dalam negeri, terutama pada sektor pangan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Anggota Komisi IV DPR RI Dadang Naser menilai situasi global saat ini berdampak pada perubahan harga sejumlah bahan pokok serta memengaruhi kelancaran distribusi pangan di Indonesia.

Menurutnya, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut memperbesar biaya logistik, sehingga berimbas pada harga jual komoditas di tingkat konsumen.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi global yang sedang mencamuk memengaruhi situasi perekonomian berbagai negara, termasuk Indonesia. Dampaknya terasa pada pergeseran harga-harga kebutuhan pokok,” ujar Dadang kepada wartawan, Rabu (10/6/2026).

Seiring kondisi tersebut, ia mengungkapkan bahwa sejumlah komoditas seperti cabai dan bawang mulai mengalami kenaikan harga di pasaran. Sementara itu, pemerintah masih berupaya menjaga kestabilan beras melalui pengelolaan cadangan dan distribusi yang lebih terukur.

Dalam pembahasan bersama pemangku kepentingan, Dadang menekankan pentingnya percepatan penyaluran cadangan beras pemerintah, terutama karena kapasitas gudang di sejumlah daerah mulai penuh menjelang musim panen berikutnya.

“Cadangan beras harus segera didistribusikan karena gudang-gudang sudah penuh dan kita bersiap menghadapi panen raya selanjutnya,” katanya.

Selain aspek distribusi, ia juga menyoroti pentingnya kebijakan anggaran yang berpihak kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Menurutnya, efektivitas program subsidi harus menjadi prioritas agar manfaatnya benar-benar tepat sasaran.

“Bantuan yang disalurkan pemerintah harus tepat sasaran dan tepat guna, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah,” tuturnya.

Di sisi lain, Dadang mengakui masih adanya tantangan dalam menjaga kestabilan harga komoditas yang bergantung pada impor, seperti bawang putih. Ketergantungan terhadap pasar global membuat harga komoditas tersebut rentan berfluktuasi.

Tak hanya itu, perubahan pola tanam di sejumlah daerah juga disebut turut memengaruhi ketersediaan dan harga pangan lokal di pasaran.

Menariknya, ia juga mengungkap adanya keluhan dari petani terkait turunnya harga beberapa komoditas, seperti telur, daging, dan minyak sawit mentah (CPO), di tengah menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat.

“Ada keanehan ketika dolar melambung, tetapi harga ekspor beberapa komoditas malah turun, terutama CPO,” kata Dadang.

Ia menduga terdapat faktor lain dalam rantai perdagangan yang memengaruhi harga di tingkat produsen, sehingga tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar global.

Karena itu, Dadang meminta semua pihak mencermati situasi ini secara objektif dan meningkatkan pengawasan agar tidak terjadi praktik yang merugikan produsen maupun konsumen.

Terkait kemungkinan adanya pelanggaran, ia menegaskan bahwa penindakan berada di ranah aparat penegak hukum. Sementara itu, seluruh elemen diminta tetap mengutamakan kepentingan nasional di tengah tekanan ekonomi global.

“Kalau terkait punishment, itu menjadi ranah aparat penegak hukum. Presiden juga sudah memberikan arahan agar semua pihak loyal terhadap negara dan bersama-sama menghadapi berbagai persoalan yang ada,” pungkasnya.

Penulis :
Khalied Malvino