
Pantau - Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman Kalimantan Timur Khairil Anwar menilai kenaikan harga bahan bakar minyak jenis Pertamax dapat menjadi momentum bagi masyarakat kelas menengah atas untuk mengevaluasi gaya hidup dan menyesuaikan pola konsumsi di tengah kondisi ekonomi saat ini.
Kenaikan Pertamax Dinilai Dorong Pola Hidup Lebih Hemat
Khairil menyatakan konsumen utama Pertamax dari kalangan kelas menengah atas sudah saatnya mengurangi pengeluaran yang bersifat konsumtif dan berorientasi pada gaya hidup.
Ia mengungkapkan, “Masyarakat kelas menengah ke atas yang merupakan konsumen utama Pertamax sudah saatnya mengurangi pengeluaran konsumtif yang bersifat sekadar gaya hidup.”
Menurutnya, pemerintah memiliki ruang fiskal yang terbatas sehingga kebijakan tersebut menjadi salah satu pilihan di tengah posisi Indonesia yang bukan lagi sebagai negara eksportir minyak.
Khairil juga menilai masyarakat dan pelaku usaha relatif lebih siap menghadapi kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter karena telah belajar dari berbagai krisis ekonomi sebelumnya.
Frugal Living dan Bantalan Sosial Jadi Solusi
Khairil mengatakan konsumen kelas menengah semestinya telah mengantisipasi kondisi tersebut dengan beralih ke kendaraan yang lebih hemat bahan bakar serta menerapkan pola hidup hemat atau frugal living.
Ia mengungkapkan, “Konsumen kelas menengah juga mestinya telah mengantisipasi kondisi ini sejak beberapa bulan sebelumnya melalui peralihan ke mobil yang lebih irit serta penerapan gaya hidup hemat atau frugal living.”
Menurutnya, dampak kenaikan harga Pertamax lebih banyak memengaruhi mobilitas pribadi dan berbeda dengan kenaikan harga solar yang berdampak langsung pada biaya logistik dan harga barang.
Ia juga merekomendasikan pemerintah menyalurkan bantalan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat serta memperkuat edukasi teknis bersama bengkel kompeten guna membantu masyarakat mengurangi biaya operasional kendaraan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





