
Pantau - Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Tulungagung mendorong pengembangan kopi sebagai komoditas ekonomi unggulan berbasis riset melalui forum Ngolah Pikir dan Inspirasi (Ngopi) yang mempertemukan petani, pelaku usaha, akademisi, serta pemerintah di Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sejumlah pelaku usaha dan industri kopi lokal untuk membahas pengembangan kopi daerah melalui inovasi, riset, serta kolaborasi berbagai pihak.
Kepala BRIDA Kabupaten Tulungagung Wahiyd Masrur mengatakan pengembangan kopi tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga mendukung pelestarian kawasan hutan.
"Kopi menjadi solusi yang mampu menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan kelestarian lingkungan. Karena itu, pengembangannya perlu didukung melalui riset dan kolaborasi berbagai pihak," ujar Wahiyd.
Kopi Dikembangkan untuk Jaga Lingkungan
Menurut Wahiyd, tanaman kopi dapat dibudidayakan tanpa harus mengubah tutupan vegetasi sehingga mampu menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
BRIDA Tulungagung menilai sejumlah wilayah memiliki potensi besar untuk pengembangan kopi, di antaranya Kecamatan Pagerwojo, Sendang, Gondang, Campurdarat, Besuki, Tanggunggunung, dan Pucanglaban.
BRIDA akan memperkuat pengembangan kopi melalui penyediaan data serta hasil riset yang dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pemerintah, pengembangan produk kopi khas Tulungagung, dan peningkatan daya saing komoditas kopi daerah.
Dalam forum Ngopi tersebut, BRIDA juga menghadirkan petani kopi sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman mengenai teknik budidaya kopi, pengelolaan hasil panen, dan strategi pemasaran produk kopi.
Petani Kopi Rasakan Manfaat Ekonomi
Salah satu petani sekaligus pelaku industri kopi lokal lereng Gunung Wilis, Badi (58), mengatakan budidaya kopi mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa merusak lingkungan.
Badi menjelaskan tanaman kopi dapat tumbuh di bawah naungan pohon yang sudah ada sehingga tetap menjaga fungsi konservasi air, kelestarian hutan, dan keseimbangan ekosistem.
Warga Desa Nglurup, Kecamatan Sendang, tersebut mulai mengembangkan kopi arabika sejak 2018 setelah mengikuti sosialisasi Bank Indonesia Kediri mengenai potensi budidaya kopi di kawasan pegunungan.
Dengan memanfaatkan lahan berketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut, Badi menanam sekitar 4.000 pohon kopi arabika.
Saat ini, kebun kopi tersebut menjadi sumber pendapatan utama bagi keluarga Badi.
Badi memilih mengolah hasil panen menjadi kopi sangrai dengan merek Kopi Mbah Badi agar memperoleh nilai tambah dibandingkan hanya menjual biji kopi mentah.
"Sekarang ekonomi keluarga kami ditopang dari kopi. Istri dan anak juga ikut mengelola usaha ini," ungkap Badi.
Melalui kegiatan tersebut, BRIDA Tulungagung berharap kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha dapat mempercepat lahirnya kopi khas Tulungagung yang memiliki daya saing, meningkatkan kesejahteraan petani kawasan pegunungan, serta mengembangkan sektor kopi berbasis inovasi dan riset.
- Penulis :
- Shila Glorya



