
Pantau - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengakui Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah dalam memperkuat supremasi hukum untuk meningkatkan kepercayaan mitra dan investor asing.
Pernyataan itu disampaikan Luhut saat memberikan kuliah tamu di School of Public Policy and Management, Universitas Tsinghua, Beijing, Jumat (18/9), yang dihadiri sekitar 200 mahasiswa dan mahasiswi asal Indonesia serta berbagai negara lain.
"Jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang setara, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk memperkuat supremasi hukum. Itulah sebabnya kami juga sedang mengembangkan 'Indonesia International Financial Center' di Bali," kata Luhut.
Indonesia Siapkan IIFC di Bali
Luhut menjelaskan salah satu langkah yang tengah dipersiapkan pemerintah adalah pembangunan Indonesia International Financial Center (IIFC) di Bali.
Menurut dia, pusat keuangan tersebut dirancang untuk meningkatkan kepercayaan sekaligus menyediakan wadah bagi modal global dengan kepastian hukum lebih kuat dan standar internasional.
"Pendirian 'financial center' itu dimaksudkan untuk membangun kepercayaan, menciptakan 'platform' terpercaya bagi modal global dengan kepastian hukum yang lebih kuat dan standar internasional. Sebab, pada akhirnya, investasi jangka panjang bergantung pada kepercayaan. Kepercayaan dan ketidakpercayaan," ungkapnya.
IIFC direncanakan dipersiapkan dalam waktu dua hingga tiga tahun, termasuk pembangunan berbagai perangkat kelembagaan dan infrastruktur pendukung.
Danantara akan berperan sebagai pengembang kawasan IIFC, sedangkan pengelolaannya akan dipimpin oleh pimpinan kawasan bersama gubernur yang bertanggung jawab membangun sistem dan tata kelola agar pusat keuangan tersebut dapat beroperasi secara optimal.
Luhut menekankan investor membutuhkan kepastian mengenai aturan, penghormatan terhadap kontrak, serta konsistensi kebijakan.
"Para investor membutuhkan kepastian. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa aturan itu jelas, kontrak dihormati dan dipatuhi, serta kebijakan bersifat konsisten. Berbagai studi menunjukkan bahwa supremasi hukum memiliki kaitan terkuat dengan kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi di banyak negara," kata Luhut.
Dorong Kerja Sama AI dan Riset Indonesia-China
Selain membahas supremasi hukum dan investasi, Luhut menyoroti pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia.
Luhut mengatakan dirinya telah menyampaikan kepada Menteri Luar Negeri China Wang Yi bahwa Indonesia mempunyai pusat penelitian AI di Kura-Kura Bali karena teknologi kecerdasan buatan dinilai semakin penting.
Luhut bertemu Wang Yi di Beijing pada Kamis (17/9) untuk menegaskan pentingnya hubungan persahabatan dan kepercayaan antara Indonesia dan China.
Dalam pengembangan hubungan kedua negara, Luhut mendorong kerja sama bergerak lebih jauh dari sekadar transfer teknologi menuju inovasi bersama, penelitian, dan pengembangan talenta.
"Menurut saya, kini kita perlu melangkah lebih jauh: dari sekadar alih teknologi menuju inovasi bersama, serta dari pabrik-pabrik menuju riset dan pengembangan talenta," kata Luhut.
Menurut Luhut, Indonesia menginginkan perusahaan-perusahaan China yang berinvestasi di Tanah Air berhasil menjalankan usahanya.
Pada saat bersamaan, Indonesia mengharapkan investasi tersebut ikut membangun keterampilan, teknologi, penelitian, kapabilitas, serta rantai pasok lokal.
"Di dunia yang semakin terfragmentasi, Indonesia dan China seharusnya tidak semakin menjauh. Kita seharusnya semakin dekat, harus memperdalam hubungan ekonomi kita, harus memperluas operasi teknologi kita dan yang terpenting, kita harus membangun kemitraan yang menciptakan kemakmuran bagi rakyat," ungkapnya.
Luhut Beberkan Alasan Indonesia Dekat dengan China
Kepada mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di China, Luhut meminta mereka memahami peran China yang dinilainya krusial bagi Indonesia, khususnya dalam 10 tahun terakhir.
Luhut juga mengungkapkan dirinya kerap mendapat pertanyaan mengenai kedekatan Indonesia dengan China.
"Saya sering mendapat tekanan saat bertemu dengan rekan-rekan lain. Mereka bertanya, 'Mengapa Anda begitu dekat dengan China?' Saya menjawab, bagi kami, ini adalah soal kelangsungan hidup. Indonesia harus bertahan dan agar bisa bertahan, kita membutuhkan investasi yang masuk ke Indonesia, kita juga perlu melihat peluang pasar, kita ingin adanya kerja sama penelitian, ada begitu banyak hal yang kita butuhkan," kata Luhut.
Nilai perdagangan Indonesia-China pada 2025 mencapai 167 miliar dolar AS, sedangkan nilai investasi tercatat sebesar 7,6 miliar dolar AS.
Hingga Juli 2026, nilai perdagangan Indonesia-China disebut telah mencapai 120 miliar dolar AS dan diperkirakan mencapai 207 miliar dolar AS pada akhir tahun.
Sementara itu, investasi dari China dan Hong Kong hingga Juni 2026 disebut telah mencapai 10,2 miliar dolar AS.
Mahasiswa Diminta Kembali ke Indonesia
Pada akhir kuliah, Luhut mendorong mahasiswa Indonesia di China agar tidak ragu kembali ke Tanah Air setelah memperoleh pengalaman bekerja di negara tersebut.
"Sebagai penutup, jangan ragu untuk kembali ke Indonesia setelah Anda menghabiskan waktu bekerja di China. Anda bisa melihat sendiri bahwa Indonesia akan terus berkembang maju dan saya berjanji kepada Anda meski generasi saya telah membuat banyak kesalahan, saya tidak ingin melihat Anda mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut," kata Luhut.
Luhut sebelumnya memperoleh gelar Honorary Professor dari Universitas Tsinghua pada 2024.
Dalam kunjungan tersebut, Luhut didampingi antara lain Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu, Sekretaris Eksekutif DEN Setipan Hario Seto, Direktur Eksekutif DEN Mochammad Firman Hidayat, anggota DEN Heriyanto Irawan, penasihat khusus bidang Hubungan Internasional Jona Widhagdo Putri, serta sejumlah pejabat terkait lainnya.
- Penulis :
- Shila Glorya




