billboard mobile
HOME  ⁄  Ekonomi

Kunjungan Museum Raja Ali Haji Batam Didominasi Pelajar dan Wisatawan Mancanegara

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kunjungan Museum Raja Ali Haji Batam Didominasi Pelajar dan Wisatawan Mancanegara
Foto: (Sumber :Kepala Disbudpar Ardiwinata sedang memberi tour museum kepada pelajar SMP di Museum Batam Raja Ali Haji di Batam, Kepri, awal Juni 2026. ANTARA/Amandine Nadja)

Pantau - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam mencatat kunjungan ke Museum Raja Ali Haji sepanjang Januari hingga Mei 2026 didominasi oleh pelajar dan wisatawan mancanegara dengan total 2.984 pengunjung.

Pelajar Menjadi Pengunjung Terbesar Museum

Kepala Disbudpar Kota Batam Ardiwinata mengatakan pelajar masih menjadi kelompok pengunjung terbanyak yang datang ke Museum Raja Ali Haji setiap bulan.

“Pelajar memang menjadi pengunjung yang paling banyak ke museum. Biasanya bisa mencapai 400 sampai 500 orang per bulan, tetapi pada Mei turun menjadi sekitar 78 orang karena kemungkinan anak-anak sedang menghadapi ujian,” ungkap Ardiwinata.

Berdasarkan data Disbudpar Batam, jumlah kunjungan museum pada Januari mencapai 959 orang.

Pada Februari tercatat 858 pengunjung.

Jumlah pengunjung turun menjadi 45 orang pada Maret.

Kunjungan kembali meningkat menjadi 744 orang pada April.

Pada Mei, jumlah pengunjung tercatat sebanyak 378 orang.

Ardiwinata menjelaskan penurunan kunjungan pada Maret terjadi karena bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga aktivitas wisata edukasi berkurang.

Wisatawan Singapura dan Malaysia Tertarik Sejarah Melayu

Selain pelajar, wisatawan mancanegara juga menjadi segmen pengunjung terbesar dengan rata-rata hampir 200 orang setiap bulan.

“Selain pelajar, wisatawan asing juga menjadi salah satu segmen pengunjung terbesar dengan rata-rata hampir 200 orang setiap bulan,” katanya.

Menurut Ardiwinata, mayoritas wisatawan asing yang datang berasal dari Singapura dan Malaysia.

Sebagian besar merupakan kelompok usia di atas 50 tahun yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan budaya Melayu.

“Mereka tertarik karena museum ini menyajikan perjalanan sejarah yang cukup lengkap, mulai dari Kerajaan Riau-Lingga, sejarah Batam, hingga kisah Nong Isa. Banyak juga rombongan dari kalangan militer dan instansi luar negeri yang berkunjung,” ujarnya.

Mini Theater Jadi Daya Tarik Edukasi Pengunjung

Untuk meningkatkan pengalaman wisata edukasi, Disbudpar Batam mengarahkan setiap pengunjung memanfaatkan fasilitas mini theater yang tersedia di museum.

“Setiap ada kunjungan yang datang, pasti kami arahkan untuk mini theater Museum, karena ada video yang dapat ditonton tentang sejarah museum tersebut,” ungkap Ardiwinata.

Fasilitas tersebut menayangkan materi sejarah dan budaya Melayu dalam format audiovisual yang interaktif.

Menurut dia, respons pengunjung terhadap fasilitas tersebut cukup positif.

“Respons pengunjung cukup positif. Fasilitasnya dinilai menarik, informatif, dan membantu pengunjung memahami sejarah Batam serta budaya Melayu dengan cara yang lebih interaktif,” katanya.

Hingga Mei 2026, Museum Raja Ali Haji mencatat penerimaan retribusi sebesar Rp24,95 juta.

Sementara itu, kawasan wisata Dendang Melayu masih menjadi penyumbang retribusi terbesar di bawah pengelolaan Disbudpar Batam dengan nilai mencapai Rp176,41 juta pada periode yang sama.

Penulis :
Ahmad Yusuf
Kemenkeu 2026