
Pantau - Pertamina Patra Niaga menyatakan siap menerapkan program mandatori Biodiesel 50 (B50) yang dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya pemerintah mengurangi impor solar, meningkatkan penggunaan biodiesel berbasis sawit dalam negeri, serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Direktur Optimasi Hilir dan Distribusi Pertamina Patra Niaga Hari Purnomo menyampaikan kesiapan tersebut saat berada di Terminal BBM Plumpang, Jakarta, Senin (22/6/2026).
"Kami sangat siap menerapkan program B50 mulai Juli 2026," ungkap Hari Purnomo.
Menurut Hari, Pertamina telah memastikan seluruh infrastruktur dan jaringan distribusi energi siap mendukung implementasi kebijakan tersebut di seluruh wilayah Indonesia.
Ia menjelaskan kesiapan distribusi mencakup jaringan dari Sabang hingga Merauke.
Hari menegaskan tidak ada perubahan volume distribusi dibandingkan saat penerapan program B40.
Perubahan utama pada kebijakan baru tersebut terletak pada peningkatan kandungan biodiesel dalam campuran bahan bakar.
Perbedaan B40 dan B50
Pada program B40, komposisi bahan bakar terdiri dari 40 persen biodiesel berbasis minyak kelapa sawit dan 60 persen solar.
Sementara itu, pada program B50 komposisinya berubah menjadi 50 persen biodiesel berbasis minyak kelapa sawit dan 50 persen solar.
Pertamina menyatakan penetapan harga B50 akan mengikuti kondisi harga pasar saat kebijakan tersebut mulai diberlakukan.
Pemerintah Klaim B50 Sudah Melalui Berbagai Uji Teknis
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan implementasi B50 akan resmi dimulai pada 1 Juli 2026.
"Penerapan B50 telah melalui berbagai tahap pengujian dengan hasil yang baik," ujar Bahlil.
Bahlil menyebut berdasarkan data per 18 Juni 2026, kadar air pada B50 tercatat lebih rendah dibandingkan B40.
Pemerintah telah menguji B50 pada berbagai jenis kendaraan dan peralatan, termasuk alat berat, kapal, kereta api, kendaraan operasional pertambangan, ekskavator, serta alat dan mesin pertanian.
Uji teknis sektor otomotif telah dimulai sejak 2 Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada Juni 2026.
Selain sektor otomotif, pemerintah masih melakukan pengujian pada alat dan mesin pertanian serta peralatan pertambangan yang ditargetkan rampung pada Semester II 2026.
Pengujian pada sektor perkeretaapian dan pembangkit listrik juga masih berlangsung hingga saat ini.
Pemerintah meyakini implementasi B50 akan memberikan manfaat ekonomi yang signifikan melalui pengurangan ketergantungan terhadap impor solar jenis C48.
Salah satu manfaat utama yang diproyeksikan adalah penghematan devisa negara hingga Rp157,28 triliun pada tahun 2026.
Pemerintah dan Pertamina menyatakan kesiapan tinggi dalam penerapan B50 guna mendukung ketahanan energi nasional, meningkatkan pemanfaatan biodiesel berbasis sawit, serta mengurangi impor bahan bakar.
- Penulis :
- Arian Mesa





