HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Melemah ke Level 6.096, Investor Menanti Penilaian MSCI dan S&P terhadap Indonesia

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Melemah ke Level 6.096, Investor Menanti Penilaian MSCI dan S&P terhadap Indonesia
Foto: (Sumber :Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). IHSG ditutup melemah ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis (21/5) terkoreksi 223,56 atau sebesar 3,54 persen. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah 20,19 poin atau 0,33 persen ke posisi 6.096,50 pada pembukaan perdagangan Selasa (23/6/2026) seiring sikap wait and see investor terhadap penilaian MSCI atas pasar saham Indonesia dan review S&P Global terhadap utang pemerintah Indonesia.

Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut turun 2,01 poin atau 0,34 persen ke posisi 597,19.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan pergerakan IHSG masih bergantung pada kemampuan bertahan di atas level psikologis 6.100.

"Jika IHSG ditutup di bawah level 6.100, maka berpeluang akan menguji level psikologis di 6.000. Namun, jika masih bertahan ditutup di atas level 6.100, diperkirakan konsolidasi IHSG masih akan berlanjut di kisaran 6.050-6.220," ungkapnya.

Investor saat ini menantikan pengumuman Annual Market Classification Review dari MSCI yang dijadwalkan pada Rabu (24/6/2026).

Penilaian tersebut akan menentukan apakah pasar saham Indonesia tetap berstatus Emerging Market atau turun menjadi Frontier Market.

Selain itu, pelaku pasar juga menunggu hasil review S&P Global Standards yang dijadwalkan pada akhir Juni 2026 terkait peringkat utang pemerintah Indonesia.

Di dalam negeri, investor juga mencermati sejumlah perubahan dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).

Salah satu ketentuan yang menjadi perhatian adalah peluang Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Danantara menjadi pemegang saham Bursa Efek Indonesia sesuai Pasal 8B ayat (1) UU P2SK.

Selain itu, aturan yang mewajibkan Bank Indonesia memperoleh persetujuan DPR dalam penetapan anggaran tahunan juga menjadi perhatian pasar.

"Hal ini menimbulkan kekhawatiran investor akan masalah independensi BI sebagai bank sentral," ujar Ratna.

Dari faktor eksternal, investor masih memantau perkembangan konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Israel dan Lebanon serta perkembangan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss.

Bank Sentral China atau PBoC juga kembali mempertahankan suku bunga pinjaman di level terendah sepanjang masa selama 13 bulan berturut-turut, yakni 3 persen untuk tenor satu tahun dan 3,5 persen untuk tenor lima tahun.

"Langkah ini mencerminkan kebijakan yang masih hati-hati di tengah ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah," kata Ratna.

Pada perdagangan sebelumnya, mayoritas bursa Eropa ditutup menguat, sementara bursa Asia pada Selasa pagi bergerak bervariasi dengan tekanan terjadi pada indeks Nikkei, Shanghai, dan Hang Seng.

Penulis :
Ahmad Yusuf