HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat Usai MSCI Pertahankan Indonesia di Kategori Emerging Market

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Menguat Usai MSCI Pertahankan Indonesia di Kategori Emerging Market
Foto: (Sumber : Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wsj.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia menguat 26,94 poin atau 0,44 persen ke level 6.128,27 pada pembukaan perdagangan Rabu, didorong respons positif pelaku pasar setelah MSCI mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga naik 2,70 poin atau 0,45 persen ke posisi 601,13.

MSCI Pertahankan Status Indonesia

Penyedia indeks global MSCI mengakui berbagai reformasi yang telah dilakukan pasar modal Indonesia dan memutuskan untuk tetap mempertahankan klasifikasi Indonesia di kelompok Emerging Market.

Namun, MSCI menegaskan akan terus mengevaluasi cakupan, konsistensi, serta efektivitas reformasi yang dilakukan, khususnya terkait penentuan free float dan kelayakan investasi.

Dalam pengumumannya, MSCI menyatakan, "Jika kemajuan yang memadai tidak terlihat pada saat Tinjauan Indeks MSCI November 2026, MSCI masih akan mempertimbangkan berbagai opsi untuk perlakuan yang tepat bagi pasar Indonesia, yang berpotensi mencakup konsultasi tentang reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Markets."

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus mengatakan IHSG masih berpotensi bergerak terbatas dengan rentang support dan resistance di level 6.050 hingga 6.220.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.050- 6.220,” ujarnya.

Kepercayaan Investor Masih Jadi Tantangan

Maximilianus menilai tantangan utama pasar modal Indonesia saat ini bukan hanya reformasi, melainkan juga membangun kembali kepercayaan investor asing agar arus modal masuk (foreign inflow) dapat meningkat.

Ia mengatakan berbagai faktor, mulai dari kebijakan pemerintah hingga stabilitas politik, masih menjadi perhatian investor global.

“Tidak pernah rasanya, Indonesia mengalami tekanan seperti ini yang datang dari berbagai macam penjuru mata angin,” katanya.

Selain itu, ia menilai kebijakan perlindungan hukum bagi investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond berpotensi meningkatkan likuiditas domestik karena dapat menarik dana yang selama ini berada di luar sistem keuangan masuk ke dalam negeri.

Meski demikian, kebijakan tersebut dinilai perlu diawasi secara ketat agar tidak menimbulkan persepsi sebagai bentuk amnesti pajak terselubung yang dapat memengaruhi kepercayaan terhadap sistem perpajakan.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan perlindungan hukum yang diberikan hanya berlaku untuk dana yang ditempatkan pada Patriot Bond dan Merah Putih Bond.

Bursa Global Bergerak Beragam

Pada perdagangan sebelumnya, bursa saham Eropa ditutup melemah dengan Euro Stoxx 50 turun 1,25 persen, DAX Jerman turun 0,98 persen, CAC 40 Prancis turun 0,71 persen, dan FTSE 100 Inggris melemah 0,09 persen.

Wall Street juga terkoreksi dengan indeks Dow Jones turun 0,09 persen, S&P 500 melemah 1,44 persen, dan Nasdaq Composite merosot 3,29 persen.

Di kawasan Asia pada perdagangan Rabu pagi, indeks Nikkei turun 0,40 persen dan Shanghai Composite melemah 0,21 persen, sedangkan Hang Seng menguat 0,10 persen serta Strait Times naik 0,17 persen.

Penulis :
Ahmad Yusuf