
Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan sistem subak di Bali menjadi contoh global dalam pengelolaan sumber daya yang mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas pertanian rendah emisi, kelestarian lingkungan, dan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari dalam acara Pertukaran Pengetahuan tentang Teknologi Mutakhir untuk Sistem Padi dan Peternakan Rendah Emisi di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu (24/6).
Menurut Puji, sistem subak yang telah diwariskan masyarakat Bali selama lebih dari seribu tahun dapat menjadi inspirasi dunia dalam pengembangan pertanian rendah emisi dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa subak tidak hanya berfungsi sebagai sistem pengelolaan irigasi pertanian, tetapi juga mencerminkan filosofi Tri Hita Karana yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
“Saya tidak bisa membayangkan tempat yang lebih baik untuk membangun diskusi tentang masa depan sistem pangan selain di tempat yang nilai-nilai tersebut masih hidup dan diterapkan hingga saat ini,” ungkapnya.
Subak Dinilai Mampu Menjaga Keseimbangan Produktivitas dan Lingkungan
Puji mengatakan transformasi sistem pertanian yang tengah didorong berbagai negara harus tetap memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan pangan, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, sektor pertanian memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan dunia, namun juga menjadi salah satu penyumbang emisi metana terbesar.
Karena itu, diperlukan pendekatan yang mampu mengintegrasikan peningkatan produktivitas dengan prinsip keberlanjutan secara bersamaan.
BRIN menilai sistem subak menjadi salah satu contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat mendukung pengelolaan pertanian yang ramah lingkungan tanpa mengabaikan produktivitas.
Peserta Internasional Pelajari Praktik Pertanian Bali
Dalam forum tersebut, peserta dari berbagai negara Asia dan Afrika diajak melihat langsung praktik pengelolaan pertanian berbasis subak di Bali.
Kegiatan itu menjadi bagian dari pembelajaran bersama mengenai sistem pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim dan rendah emisi.
Puji berharap pengalaman Bali dapat menjadi referensi bagi berbagai negara dalam mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan yang tetap berakar pada kearifan lokal dan kebutuhan masyarakat setempat.
“Kita perlu meninggalkan Bali dengan komitmen nyata untuk bertindak sekarang dalam mewujudkan sistem pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” katanya.
- Penulis :
- Aditya Yohan





