
Pantau - Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) menyatakan antrean panjang kendaraan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, saat libur sekolah bukan disebabkan kekurangan kapal, melainkan keterbatasan kapasitas infrastruktur pelabuhan yang tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah kendaraan.
Infrastruktur Dinilai Jadi Persoalan Utama
Ketua Umum Gapasdap Khoiri Soetomo mengatakan kepadatan di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk telah menjadi persoalan struktural yang memerlukan penyelesaian permanen.
"Persoalan ini tidak bisa hanya dipandang sebagai masalah musiman yang hanya muncul saat Lebaran atau libur panjang, melainkan telah menjadi persoalan struktural yang membutuhkan penyelesaian cepat dan permanen," ungkapnya.
Khoiri menjelaskan selama ini solusi yang kerap diambil adalah menambah jumlah kapal atau mengoperasikan kapal yang lebih besar dan cepat.
Menurutnya, operator penyeberangan telah memenuhi kebutuhan tersebut melalui investasi armada yang lebih modern, lebih besar, dan lebih aman, tetapi pembangunan infrastruktur pelabuhan tidak berkembang dengan kecepatan yang sama.
Ia menyebut saat ini tersedia sekitar 56 kapal yang siap melayani lintasan Ketapang-Gilimanuk, namun keterbatasan jumlah dan kapasitas dermaga membuat banyak kapal harus menunggu giliran sandar.
"Akibatnya, waktu tunggu kapal meningkat, produktivitas armada menurun dan antrean kendaraan di darat semakin panjang," ujarnya.
Gapasdap Dorong Percepatan Pembangunan Dermaga
Khoiri mengatakan sejumlah dermaga yang masih digunakan merupakan dermaga tipe LCM yang dinilai sudah tidak lagi ideal untuk melayani kapal motor penumpang modern.
Ia mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam pembangunan sejumlah fasilitas pelabuhan, termasuk Dermaga MB IV serta pengembangan Dermaga Bulusan.
Namun, ia mengungkapkan Dermaga Bulusan saat ini tidak dapat dimanfaatkan karena dua dolphin sandar mengalami kerusakan dan satu dolphin lainnya berada dalam kondisi kurang baik sehingga kapal tidak dapat bersandar dengan aman.
Khoiri menyatakan Gapasdap telah berulang kali mengusulkan kepada Kementerian Perhubungan agar segera membangun dermaga baru, merehabilitasi fasilitas yang rusak, membangun breakwater, memperluas kolam pelabuhan, serta meningkatkan kapasitas pelabuhan.
"Kami berharap DPR RI memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pembangunan pelabuhan penyeberangan sebagai bagian dari infrastruktur strategis nasional," ungkapnya.
"Kami juga memohon perhatian Bapak Presiden Republik Indonesia agar berkenan memimpin percepatan pembangunan infrastruktur pelabuhan penyeberangan sehingga kebijakan nasional tidak lagi hanya berfokus pada penambahan armada, tetapi juga pada pembangunan prasarana," tambahnya.
Sementara itu, Wakil Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Yossianis Marciano menyatakan pada 2026 pihaknya mengupayakan peningkatan fasilitas dan sarana prasarana, termasuk penambahan dermaga di Pelabuhan Ketapang dan Pelabuhan Gilimanuk serta penataan kawasan pelabuhan agar layanan penyeberangan semakin lancar.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





