
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 51,93 poin atau 0,92 persen ke level 5.695,12 pada perdagangan Rabu sore, sementara indeks LQ45 turut naik 3,64 poin atau 0,66 persen ke level 556,75.
Bursa Asia dan Perundingan AS-Iran Jadi Perhatian Pasar
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus (Nico), menyatakan penguatan mayoritas bursa saham Asia menjadi salah satu penopang kenaikan IHSG.
Ia mengungkapkan, "Menguatnya pasar bursa regional Asia turut menopang IHSG. Pasar menantikan perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Iran."
Pelaku pasar global masih menantikan perkembangan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran setelah utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba di Doha, Qatar, pada Selasa, 30 Juni 2026.
Mediator Qatar meredam ekspektasi adanya terobosan besar dalam perundingan tersebut meskipun pembicaraan perdamaian tetap menjadi perhatian pasar.
Pejabat Amerika Serikat dan Iran tidak dijadwalkan bertemu secara langsung dalam perundingan tersebut.
Amerika Serikat dan Iran masih berupaya mencapai penyelesaian permanen atas konflik yang terjadi, sementara Iran tetap mempertahankan posisinya terkait pengendalian lalu lintas maritim melalui jalur perairan strategis.
Sentimen lain yang membebani pasar berasal dari ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat pada Kamis, 2 Juli 2026.
Data Domestik Jadi Sorotan Meski IHSG Menguat
Dari dalam negeri, penguatan IHSG ditopang oleh kenaikan sejumlah saham emiten konglomerasi meski berlangsung di tengah data ekonomi domestik yang kurang menggembirakan.
Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) Manufaktur Global S&P Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei 2026.
Angka 46,9 menjadi level terendah sejak Juni 2025 dan menandai kontraksi sektor manufaktur untuk kedua kalinya pada tahun 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Juni 2026 sebesar 0,44 persen secara bulanan (month to month/mtm), 1,79 persen secara tahun berjalan (year to date/ytd), dan 3,34 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Kenaikan inflasi dipengaruhi faktor musiman, kenaikan harga bahan baku, serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
BPS juga melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar Amerika Serikat yang menjadi defisit pertama dalam enam tahun terakhir.
Nico mengatakan, "Hal ini menunjukkan belum berdampaknya upaya menaikkan suku bunga acuannya Bank Indonesia (BI) dalam mengendalikan inflasi. Kondisi ini tentunya mendorong BI aktif dalam menjaga nilai rupiah, mengendalikan inflasi."
IHSG sempat dibuka melemah dan bergerak di zona negatif sepanjang sesi pertama.
Pada sesi kedua, IHSG tetap berada di zona negatif hingga penutupan perdagangan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor menguat dengan sektor barang baku naik 2,81 persen, sektor energi naik 2,63 persen, dan sektor infrastruktur naik 1,39 persen.
Tiga sektor melemah, yakni sektor transportasi dan logistik turun 0,69 persen, sektor barang konsumen primer turun 0,35 persen, serta sektor keuangan turun 0,33 persen.
Saham yang mencatat penguatan terbesar meliputi COCO, BBRM, PADI, BEEF, dan CSMI.
Saham yang mengalami pelemahan terbesar meliputi RGAS, MMIX, MTLA, MSKY, dan RONY.
Frekuensi perdagangan saham mencapai 1.542.000 kali transaksi dengan volume perdagangan sebanyak 17,06 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp10,26 triliun.
Sebanyak 391 saham menguat, 263 saham melemah, dan 305 saham tidak mengalami perubahan harga.
Pada perdagangan yang sama, indeks Nikkei naik 0,60 persen ke 70.486,00, indeks Shanghai naik 0,44 persen ke 4.112,45, indeks Shenzhen naik 0,39 persen ke 2.851,81, sedangkan indeks Strait Times turun 0,11 persen ke 5.202,48.
- Penulis :
- Leon Weldrick





