HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Berpotensi Bergerak Sideways Dipengaruhi Sentimen Global dan Kebijakan Baru BEI

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Berpotensi Bergerak Sideways Dipengaruhi Sentimen Global dan Kebijakan Baru BEI
Foto: (Sumber :Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak sideways pada perdagangan Rabu (15/7) di tengah kombinasi sentimen global dan domestik, sementara pada pembukaan perdagangan IHSG menguat 28,51 poin atau 0,47 persen ke level 6.068 dan Indeks LQ45 naik 2,61 poin atau 0,44 persen ke posisi 601,50.

Sentimen Global Masih Jadi Perhatian Investor

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyatakan pergerakan IHSG masih berada dalam fase konsolidasi.

"IHSG berpeluang konsolidasi direntang level 5.950-6.125 pada perdagangan Rabu," ujar Ratna.

Ia mengungkapkan data inflasi Amerika Serikat yang melambat menjadi 3,5 persen secara tahunan pada Juni 2026 dari sebelumnya 4,2 persen turut menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS.

"Data inflasi yang melambat menurunkan ekspektasi akan potensi kenaikan suku bunga The Fed pada akhir bulan ini. Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan kesaksian di hadapan Kongres mengatakan bahwa peningkatan inflasi dalam lima tahun terakhir akan menjadi masa lalu," ungkapnya.

Dari Asia, ekspor China tumbuh 27 persen dan impor meningkat 36 persen secara tahunan pada Juni 2026 sehingga surplus neraca perdagangan negara tersebut naik menjadi 125,62 miliar dolar AS.

Investor juga masih mencermati proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto China yang diperkirakan melambat menjadi 4,5 persen pada kuartal II 2026 dari 5 persen pada kuartal sebelumnya.

BEI Tambah Kriteria Baru Pengawasan Saham

Dari dalam negeri, BEI menambahkan kriteria Price-Impact Ratio dalam metodologi penyaringan saham yang berpotensi memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).

Kriteria tersebut digunakan untuk mengawasi saham yang mengalami kenaikan harga signifikan tetapi tidak didukung aktivitas transaksi yang memadai.

Price-Impact Ratio merupakan perbandingan antara perubahan harga saham dan tingkat velocity perdagangan, yaitu rata-rata volume transaksi dibandingkan jumlah saham yang beredar di publik.

Dengan penerapan kriteria baru tersebut, BEI menambahkan 37 saham ke dalam daftar HSC sehingga total saham yang masuk pengawasan menjadi 51 emiten.

Sementara itu, bursa saham Eropa mayoritas ditutup menguat pada perdagangan Selasa (14/7), sedangkan Wall Street juga mencatat penguatan pada indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite.

Pada perdagangan Asia Rabu pagi, indeks Nikkei, Hang Seng, dan Strait Times bergerak menguat, sedangkan indeks Shanghai terkoreksi tipis.

Penulis :
Ahmad Yusuf