HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Diproyeksikan Melemah Terbatas akibat Aksi Ambil Untung Menjelang Akhir Pekan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Diproyeksikan Melemah Terbatas akibat Aksi Ambil Untung Menjelang Akhir Pekan
Foto: (Sumber :Arsip - Pekerja memantau grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Treasury BTN, Jakarta, Senin (2/2/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA).)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia diperkirakan bergerak melemah terbatas pada perdagangan Jumat seiring aksi profit taking investor menjelang akhir pekan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Sentimen Global Tekan Pergerakan Pasar

IHSG dibuka menguat 4,63 poin atau 0,08 persen ke level 6.112,84, sedangkan Indeks LQ45 naik 0,31 poin atau 0,05 persen ke posisi 608,89.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, “Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.000- 6.220.”

Nico menjelaskan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar setelah terganggunya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Ia menilai kondisi tersebut berpotensi memperbesar peluang kenaikan suku bunga The Fed apabila harga energi terus meningkat akibat konflik.

Nico mengungkapkan, “Pelaku pasar dan investor, mungkin akan menghadapi masa-masa sulit, terutama bagi IHSG dan pasar obligasi untuk bisa bangkit kembali. Selain itu, probabilitas kenaikan tingkat suku bunga The Fed, kami melihat berpotensi meningkat dengan cepat, apabila harga energi tidak bisa dikendalikan akibat perang tersebut.”

Faktor Domestik Dinilai Masih Terkendali

Di dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan utang luar negeri Indonesia pada Mei 2026 mencapai 462,4 miliar dolar AS dengan pertumbuhan 2,1 persen secara tahunan dan rasio terhadap produk domestik bruto sebesar 30,6 persen.

Menurut Nico, struktur utang luar negeri Indonesia masih tergolong sehat karena didominasi utang jangka panjang sehingga risiko pembiayaan kembali tetap terjaga.

Ia mengatakan, “Namun, pelemahan Rupiah dan tingginya suku bunga global berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang ke depan. Selama dana utang digunakan untuk sektor produktif dan disiplin fiskal tetap terjaga, kenaikan ULN diperkirakan belum menjadi risiko signifikan bagi stabilitas ekonomi Indonesia.”

Pada perdagangan sebelumnya, bursa saham Eropa bergerak variatif, sementara Wall Street ditutup melemah dan mayoritas bursa saham Asia juga mengalami tekanan pada perdagangan Jumat pagi.

Penulis :
Ahmad Yusuf