HOME  ⁄  Ekonomi

Analis Memproyeksikan Rupiah Melemah akibat Memanasnya Tensi Geopolitik di Timur Tengah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Analis Memproyeksikan Rupiah Melemah akibat Memanasnya Tensi Geopolitik di Timur Tengah
Foto: (Sumber :Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye.)

Pantau - Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan nilai tukar rupiah cenderung melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran.

Lukman mengatakan, “Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik oleh tensi geopolitik di Timteng.”

Ia menilai pelemahan rupiah berpotensi terbatas karena sentimen domestik menunjukkan perbaikan dalam beberapa waktu terakhir.

Ia mengatakan, “Dari RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) kemarin, walau mempertahankan tingkat suku bunga, namun langkah BI memberi insentif baru yang di antaranya mengurangi biaya transaksi lindung nilai valuta asing dengan bank sentral dan mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS, diharapkan bisa mendukung rupiah.”

Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, rupiah justru menguat 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.914 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.917 per dolar AS.

Insentif BI Dinilai Dukung Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia memilih memberikan insentif kepada investor melalui kenaikan dan perluasan insentif pengurangan premi untuk mendorong arus masuk investasi portofolio asing dibandingkan menaikkan suku bunga acuan pada Juli 2026.

Insentif tersebut berupa kenaikan insentif bagi swap jual lindung nilai dari 10 persen menjadi 12,5 persen serta perluasan insentif bagi domestic non-deliverable forward (DNDF) jual lindung nilai sebesar 15 persen.

Lukman menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga dapat dipahami karena tekanan domestik mulai mereda meski sentimen eksternal memburuk.

Ia mengatakan, “Apabila perkembangan di Timteng tidak membaik, BI mungkin akan baru menaikkan kembali dalam pertemuan berikutnya.”

Ketegangan Timur Tengah Masih Membayangi Pasar

Mengutip Sputnik, Amerika Serikat telah mengerahkan kembali pesawat tempur siluman F-35 generasi kelima dan pesawat tempur F-16 dari Eropa ke kawasan Timur Tengah.

Dalam sepekan terakhir, Washington juga dilaporkan mengirim pasukan operasi khusus serta skuadron tambahan pesawat tempur ke kawasan tersebut.

Pesawat pengebom B-1 yang ditempatkan di Inggris juga dilaporkan berada dalam status siap tempur untuk kemungkinan operasi militer berskala besar.

Penulis :
Aditya Yohan