HOME  ⁄  Ekonomi

Singapura Masih Jadi Investor Terbesar di Batam dengan Realisasi Rp10,89 Triliun pada Semester I 2026

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Singapura Masih Jadi Investor Terbesar di Batam dengan Realisasi Rp10,89 Triliun pada Semester I 2026
Foto: (Sumber :Illustrasi - Suasana di Terminal Peti Kemas Batu Ampar di Batam, Kepri (10/7/2026). (ANTARA/Amandine Nadja))

Pantau - Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Batam menyatakan Singapura masih menjadi negara asal investasi terbesar di Batam sepanjang semester I 2026 dengan nilai realisasi mencapai Rp10,89 triliun.

Singapura Berkontribusi 36,44 Persen terhadap Total Investasi

Kepala DPMPTSP Kota Batam Reza Khadafy mengatakan realisasi investasi dari Singapura berkontribusi sekitar 36,44 persen dari total investasi Batam yang mencapai Rp29,89 triliun.

Ia mengungkapkan, “Singapura tercatat sebagai negara asal investasi terbesar di Kota Batam dengan realisasi investasi mencapai Rp10,89 triliun atau berkontribusi sekitar 36,44 persen dari total realisasi investasi sebesar Rp29,89 triliun.”

Menurut Reza, tingginya investasi dari Singapura didukung oleh kedekatan geografis, konektivitas yang baik, serta iklim investasi Batam yang kondusif bagi pengembangan sektor industri dan jasa.

Ia menambahkan, “Selain faktor lokasi yang strategis di jalur perdagangan internasional, Batam juga memiliki kawasan industri yang terus berkembang, didukung infrastruktur pelabuhan dan bandara, serta kemudahan berusaha yang menjadi daya tarik bagi investor asing.”

Realisasi investasi Batam pada semester I 2026 juga telah melampaui target kinerja tahunan dalam Rencana Strategis (Renstra) dengan capaian 106,48 persen.

Kontribusi investasi Batam terhadap target investasi Provinsi Kepulauan Riau sebesar Rp66,36 triliun telah mencapai 45,05 persen.

Sektor Manufaktur Berteknologi Tinggi Dominasi Investasi

DPMPTSP Batam mencatat sektor industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp6,87 triliun atau sekitar 22,98 persen dari total realisasi.

Reza mengatakan, “Kondisi tersebut menunjukkan sektor manufaktur berteknologi tinggi masih menjadi penggerak utama pertumbuhan investasi di Batam. Meski mencatat kinerja positif, DPMPTSP Batam menilai persaingan dalam menarik investasi semakin ketat.”

Ia menyebut investor kini tidak hanya mempertimbangkan insentif, tetapi juga kepastian hukum, kecepatan pelayanan, kesiapan infrastruktur, ketersediaan lahan, serta kualitas sumber daya manusia.

Reza menegaskan, “Karena itu, kami terus memperkuat pelayanan perizinan dan meningkatkan koordinasi antarinstansi untuk menjaga daya saing Batam sebagai salah satu tujuan investasi utama di Indonesia.”

Penulis :
Ahmad Yusuf