HOME  ⁄  Ekonomi

Program B50 Dinilai Berpotensi Menghemat Devisa dan Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Program B50 Dinilai Berpotensi Menghemat Devisa dan Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Foto: (Sumber :Petugas mengisi BBM jenis Biosolar B50 di salah satu SPBU di Medan, Sumatera Utara, Rabu (22/7/2026). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan penerapan mandatori biodiesel B50 dapat memangkas impor minyak sebesar 250-300 ribu barel per hari yang semula dikisaran 1 juta barel per hari turun menjadi 700-750 ribu barel per hari. ANTARA FOTO/Yudi Manar/tom..)

Pantau - Program mandatori biodiesel B50 dinilai berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar, menghemat devisa negara, serta memperkuat ketahanan energi melalui peningkatan pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku energi.

B50 Diproyeksikan Kurangi Impor Solar dan Serap Produksi CPO

Program B50 merupakan campuran 50 persen fatty acid methyl ester (FAME) berbahan baku minyak sawit dengan 50 persen solar yang menjadi bagian dari strategi transformasi energi nasional.

Pada 2026, kebutuhan FAME diperkirakan mencapai 17,6 juta hingga 20,1 juta kiloliter yang memerlukan sekitar 23,3 juta ton crude palm oil (CPO) atau setara dengan 101 juta hingga 106 juta ton tandan buah segar (TBS).

Dengan kebutuhan tersebut, hampir 40 persen produksi CPO nasional diperkirakan akan diserap oleh pasar domestik melalui program biodiesel.

Peningkatan penyerapan CPO di dalam negeri dinilai dapat mengurangi ketergantungan harga TBS terhadap permintaan ekspor serta menjaga stabilitas harga di tingkat petani sawit.

Berpotensi Hemat Devisa dan Ciptakan Lapangan Kerja

Program B50 juga diperkirakan mampu menggantikan sekitar 20 juta kiloliter solar berbasis fosil sehingga impor solar dapat ditekan secara signifikan.

Pengurangan impor tersebut diproyeksikan mampu menghemat devisa sekitar Rp157 triliun hingga Rp170 triliun setiap tahun.

Selain itu, nilai tambah industri sawit diperkirakan meningkat hingga Rp24,68 triliun serta berpotensi menciptakan sekitar 2,2 juta lapangan kerja.

Program ini juga dinilai dapat mendukung penurunan emisi gas rumah kaca sekaligus memperkuat neraca perdagangan, meningkatkan kesejahteraan petani sawit, dan mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.

Penulis :
Ahmad Yusuf