
Pantau - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan harga ayam dan telur di tingkat peternak mulai pulih berkat kebijakan stabilisasi pemerintah yang bertujuan menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat serta memperkuat penyerapan hasil produksi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Telur (ayam) sudah aman, (daging) ayam sudah aman, harganya sudah naik," kata Amran usai menerima audiensi terbatas dengan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) di Jakarta, Senin.
Pemerintah Perkuat Stabilisasi Harga Perunggasan
Amran menjelaskan pemerintah terus menjaga keseimbangan antara produksi, harga, dan penyerapan hasil peternak sehingga kondisi harga komoditas perunggasan mulai menunjukkan perbaikan.
"Jadi kini (program) MBG (makan bergizi gratis) adalah off-taker untuk produksi-produksi pertanian, 167 juta petani peternak pekebun. Jadi MBG adalah off-takernya komunitas pertanian," ungkapnya.
Kementerian Pertanian sebelumnya menggelar pertemuan dengan peternak ayam petelur pada 10 Juni 2026 untuk merumuskan solusi atas anjloknya harga ayam dan telur.
Pemerintah kemudian menetapkan sejumlah langkah strategis, di antaranya pengawalan harga acuan pembelian di tingkat peternak oleh Satgas Pangan Polri, penyaluran jagung melalui mekanisme Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), serta peningkatan frekuensi penyerapan telur oleh Badan Gizi Nasional dalam program MBG dari satu kali menjadi tiga kali setiap pekan.
Pada 6 Juli 2026, Kementan bersama HKTI juga memfasilitasi rembuk peternak yang menghasilkan kesepakatan harga acuan live bird sebesar Rp19.500 per kilogram dan harga telur ayam ras sebesar Rp24.000 per kilogram di tingkat peternak yang mulai berlaku sejak 15 Juli 2026.
Peternak Sambut Positif Perbaikan Harga
Ketua Umum Pinsar Indonesia, Singgih Januratmako, menyambut positif membaiknya harga ayam dan telur setelah sebelumnya peternak menghadapi tekanan akibat kelebihan pasokan dan tingginya biaya produksi.
"Kami tadi sudah berdiskusi dengan Pak Menteri Amran. Kami berterima kasih karena sekarang alhamdulillah harga ayam dan telur sudah naik. Ini tentu menjadi kabar baik bagi peternak," ujarnya.
Singgih berharap Badan Gizi Nasional dapat terus menjadi penyerap hasil produksi peternak rakyat agar harga tetap stabil.
"BGN kami harapkan menjadi offtaker. Dari dulu memang itu yang kami diskusikan. Walaupun penyerapannya sekitar 15 sampai 20 persen produksi, itu sangat membantu peternak," katanya.
"Selama ini kelebihan produksi ayam dan telur juga sekitar 15 persen. Dengan adanya penyerapan ini, seharusnya harga tidak lagi bergejolak," tambah Singgih.
Ia juga berharap harmonisasi antara Kementerian Pertanian, Badan Gizi Nasional, dan peternak semakin kuat sehingga seluruh kebijakan dapat berjalan efektif dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha perunggasan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



