HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp18.070 per Dolar AS di Tengah Sikap Hati-Hati Pasar terhadap Kebijakan BI

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp18.070 per Dolar AS di Tengah Sikap Hati-Hati Pasar terhadap Kebijakan BI
Foto: (Sumber :Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5) melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS, terpengaruh ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang lebih lama. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye.)

Pantau - Nilai tukar rupiah dibuka melemah 61 poin atau 0,34 persen menjadi Rp18.070 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, dipengaruhi sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan Bank Indonesia di bawah kepemimpinan gubernur baru.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pelemahan rupiah dipengaruhi faktor domestik, terutama kehati-hatian investor dalam menyikapi masa transisi kepemimpinan Bank Indonesia.

Ia mengatakan, “Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran di Rp18 ribu-Rp18.050 per dolar AS dipengaruhi oleh faktor domestik sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan BI di bawah Gubernur yang baru.”

Transisi tersebut berlangsung setelah Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti ditetapkan sebagai pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo.

Pemerintah selanjutnya akan menerbitkan Keputusan Presiden mengenai pemberhentian Perry Warjiyo secara hormat sebelum Presiden mengajukan calon Gubernur Bank Indonesia definitif kepada DPR RI sesuai ketentuan perundang-undangan.

Rully mengungkapkan, “Gubernur BI yang baru perlu memprioritaskan penguatan kelembagaan/institusi, terutama kebijakan operasional moneter yang mempengaruhi jumlah uang beredar dan ekspektasi inflasi, di mana seharusnya BI tidak secara langsung membeli obligasi pemerintah di pasar perdana.”

Selain faktor domestik, sentimen global dinilai cukup mendukung dengan indeks dolar Amerika Serikat yang bergerak stabil serta penurunan harga minyak setelah meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menginstruksikan penangguhan serangan lanjutan terhadap Iran sehingga mengakhiri rangkaian serangan yang berlangsung selama 13 hari berturut-turut.

Di sisi lain, Iran menyatakan belum melakukan perundingan dengan Amerika Serikat dan menegaskan setiap pembicaraan di masa mendatang akan bergantung pada perubahan sikap Washington.

Penulis :
Aditya Yohan