
Pantau - Perubahan standar perdagangan global dan meningkatnya tuntutan keberlanjutan dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadikan kekayaan alam sebagai sumber keunggulan ekonomi baru yang mampu menarik investasi dan memperkuat daya saing ekspor.
Perubahan iklim dan penerapan standar lingkungan yang semakin ketat membuat hutan, mangrove, terumbu karang, serta keanekaragaman hayati tidak lagi dipandang hanya sebagai sumber bahan baku, tetapi juga aset ekonomi bernilai tinggi.
Uni Eropa mulai menerapkan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mewajibkan komoditas seperti sawit, kakao, kopi, kayu, karet, dan produk turunannya tidak berasal dari kawasan hasil deforestasi.
Selain itu, Uni Eropa juga mulai memberlakukan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) terhadap produk beremisi tinggi seperti besi, baja, aluminium, semen, dan pupuk sehingga jejak karbon menjadi salah satu faktor penentu daya saing ekspor.
Forum Ekonomi Dunia memperkirakan lebih dari separuh produk domestik bruto dunia bergantung secara langsung maupun tidak langsung pada alam dan jasa ekosistem sehingga keanekaragaman hayati menjadi aset ekonomi yang semakin bernilai.
Berdasarkan Biodiversity Expenditure Review, kebutuhan pendanaan pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia diperkirakan mencapai Rp118,5 triliun hingga Rp163,8 triliun per tahun, sementara kapasitas pembiayaan yang tersedia baru sekitar Rp21,6 triliun.
Kesenjangan pendanaan tersebut menunjukkan upaya konservasi tidak dapat hanya mengandalkan anggaran pemerintah dan membutuhkan dukungan investasi.
Pemerintah telah memasukkan pengelolaan keanekaragaman hayati sebagai bagian dari strategi pembangunan melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 dan Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo AA Teguh Sambodo mengungkapkan, "keanekaragaman hayati merupakan fondasi pembangunan yang mendukung ketahanan pangan sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi hijau dan ekonomi biru."
Ia menilai tantangan saat ini bukan lagi menyadari pentingnya pelestarian, melainkan membangun mekanisme yang mampu menghubungkan upaya konservasi dengan investasi berkelanjutan.
- Penulis :
- Aditya Yohan



