
Pantau - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu pagi melemah 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp18.099 per dolar Amerika Serikat dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp18.083 per dolar AS seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan antisipasi pasar terhadap hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC).
Pelemahan rupiah dipengaruhi laporan mengenai serangan Iran terhadap pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Ketegangan Timur Tengah Tekan Pergerakan Rupiah
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan, “Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS, dengan harga minyak mentah yang kembali melonjak menyusul berita penyerangan oleh Iran terhadap pasukan AS di Timteng.”
Mengutip Anadolu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut muncul setelah media lokal melaporkan Iran meluncurkan rudal ke arah pangkalan militer AS di Yordania.
Ketegangan antara AS dan Iran meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah aksi saling serang yang menyasar fasilitas dan peralatan militer di kawasan.
Pasar Nantikan Sikap The Fed
Lukman mengatakan agenda FOMC diperkirakan mempertahankan suku bunga, namun pasar mengantisipasi nada hawkish dari Ketua The Fed.
Ia mengungkapkan, “Namun, pasar mengantisipasi nada hawkish Kepala The Fed. Ini tentunya akan juga membebani rupiah.”
Menurutnya, pernyataan hawkish berpotensi dipicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak dunia yang dapat kembali mendorong inflasi di Amerika Serikat.
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah juga diperkirakan masih negatif seiring pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Ahmad Yusuf



