
Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan riset harus menjadi dasar hilirisasi agar menghasilkan inovasi bernilai tambah yang mampu memperkuat industri nasional, meningkatkan daya saing, serta mendorong pertumbuhan ekonomi.
BRIN Dorong Riset Berorientasi Kebutuhan Masyarakat
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan riset tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi harus berkembang menjadi teknologi, diterapkan sebagai inovasi, hingga dikomersialisasikan menjadi produk industri.
"Riset harus diarahkan untuk mempercepat hilirisasi agar bisa menghasilkan nilai tambah," ungkap Arif saat memberikan pembekalan kepada Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Ia menilai penguatan riset dan inovasi menjadi syarat penting untuk membangun sektor ekonomi riil yang mampu menopang target pertumbuhan ekonomi nasional.
"Kalau kita ingin menjadi negara (ekonomi terbesar) nomor empat di dunia pada tahun 2050, maka salah satu prasyaratnya adalah stabilitas pertumbuhan ekonomi di kisaran 6 sampai 7 persen. Dan itu hanya bisa terjadi kalau ada kualitas sektor ekonomi riil yang kuat," ujarnya.
Arif menjelaskan proses inovasi dimulai dari penemuan ilmu pengetahuan, berkembang menjadi teknologi, diterapkan sebagai inovasi, kemudian dikomersialisasikan hingga menghasilkan produk industri yang memberikan manfaat ekonomi.
Menurutnya, riset juga harus berangkat dari kebutuhan masyarakat agar teknologi yang dihasilkan mampu menjawab persoalan di lapangan.
"Riset tidak semata-mata berbasis pada imajinasi peneliti. Riset sebaiknya juga harus melihat aspirasi dan kebutuhan dari pengguna kita," katanya.
Kolaborasi Jadi Kunci Perkuat Ekosistem Inovasi
Arif mencontohkan hasil riset telah mendorong diversifikasi produk turunan kelapa sawit menjadi biodiesel, gula generasi ketiga, biomaterial, hingga berbagai produk industri lainnya.
Ia juga menyebut rumput laut dapat diolah menjadi karagenan yang dimanfaatkan dalam industri dirgantara dan berbagai produk berbasis biomaterial.
Menurut Arif, kolaborasi antara BRIN, perguruan tinggi, pemerintah daerah, industri, UMKM, dan masyarakat menjadi kunci agar hasil riset tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi memberikan manfaat ekonomi secara nyata.
"Teknologi-teknologi yang Anda ciptakan itu teknologi yang menjawab kebutuhan dan kemudian disebarkan. Libatkan Kementerian Transmigrasi, libatkan BRIN, libatkan perguruan tinggi untuk menunjukkan bahwa Anda membawa manfaat," ungkapnya.
Arif mengungkapkan Indonesia saat ini berada di peringkat ke-55 Global Innovation Index dengan sekitar 15.000 permohonan paten pada 2024, sehingga penguatan ekosistem inovasi nasional masih menjadi tantangan.
Ia menambahkan Indonesia memiliki lebih dari 4.400 perguruan tinggi, sekitar 303 ribu dosen, dan hampir 10 juta mahasiswa yang menjadi modal besar untuk memperkuat riset, pengembangan teknologi, dan inovasi guna mendukung pembangunan nasional.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



