HOME  ⁄  Ekonomi

Hamas Sebut Eskalasi Serangan Israel di Gaza sebagai Upaya Gagalkan Gencatan Senjata

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Hamas Sebut Eskalasi Serangan Israel di Gaza sebagai Upaya Gagalkan Gencatan Senjata
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Pasukan Hamas. ANTARA/Anadolu/py..)

Pantau - Hamas menuding Israel sengaja meningkatkan serangan militer di Jalur Gaza untuk menggagalkan implementasi tahap baru kesepakatan gencatan senjata yang disebut telah dicapai bersama mediator dan Amerika Serikat.

Hamas Tuding Serangan Ganggu Kesepakatan Gencatan Senjata

Hamas menyatakan serangan militer Israel sejak Minggu pagi menewaskan lebih dari 18 warga Palestina dan menghabisi satu keluarga penuh di Jalur Gaza.

Kelompok tersebut menyebut pengeboman itu merupakan bagian dari upaya yang disengaja untuk mengganggu implementasi kesepakatan gencatan senjata.

“Eskalasi yang disengaja oleh penjahat perang Netanyahu untuk mengganggu kesepahaman yang tercapai dengan mediator, termasuk pemerintah AS, untuk merampungkan implementasi kesepakatan gencatan senjata,” demikian pernyataan Hamas.

Hamas juga menyerukan mediator dan pihak penjamin gencatan senjata untuk menjalankan tanggung jawabnya dengan mengutuk serangan Israel serta segera menekan agar serangan dihentikan dan kesepakatan dipatuhi.

Kelompok itu turut menyebut serangan Israel sebagai “kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan” serta mendesak komunitas internasional mengambil langkah hukum agar Israel dimintai pertanggungjawaban.

Hamas juga meminta adanya langkah-langkah untuk melindungi warga Palestina yang disebut semakin rentan akibat ancaman genosida dan pengusiran.

Implementasi Tahap Baru Masih Menunggu Respons Israel

Pada Jumat lalu, Dewan Perdamaian (Board of Peace) dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa tahapan selanjutnya dari gencatan senjata di Gaza telah siap dilaksanakan.

Mereka juga menyatakan Hamas telah menyetujui peta jalan rinci terkait implementasi tahap berikutnya dari kesepakatan tersebut.

Hingga kini, pemerintah Israel belum menyampaikan tanggapan resmi terkait perkembangan tersebut.

Penulis :
Aditya Yohan