HOME  ⁄  Ekonomi

KSSK Menilai Stabilitas Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Gejolak Global pada Triwulan II 2026

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

KSSK Menilai Stabilitas Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Gejolak Global pada Triwulan II 2026
Foto: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu berfoto bersama dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin 3/8/2026 (sumber: ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

Pantau - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia selama triwulan II 2026 tetap terjaga meskipun tekanan eksternal meningkat akibat eskalasi konflik geopolitik global, dengan koordinasi erat antara pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjadi faktor utama penopang stabilitas tersebut.

Menteri Keuangan sekaligus Ketua KSSK Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan tekanan eksternal kembali meningkat pada triwulan II 2026.

"Memasuki triwulan II 2026, tekanan eksternal kembali meningkat, seiring eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi tinggi, volatilitas pasar keuangan global, serta tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal," ungkapnya.

Meski menghadapi tekanan eksternal, KSSK menilai perekonomian domestik tetap memiliki daya tahan yang kuat yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang masih solid serta kondisi sektor keuangan yang tetap terjaga.

KSSK menegaskan risiko eksternal terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan perlu terus diwaspadai agar momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetap terjaga.

"Dengan perkembangan tersebut, risiko eksternal terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dipandang perlu terus diwaspadai untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi," ujarnya.

Tantangan Global Masih Membayangi

Pada triwulan II 2026, perekonomian global masih menghadapi tantangan akibat ketidakpastian konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi dunia.

Kenaikan harga minyak dan komoditas strategis meningkatkan risiko terhadap perdagangan internasional sekaligus memperbesar gangguan pada rantai pasok global.

Tekanan tersebut turut mendorong kenaikan inflasi global sehingga mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter di sejumlah negara maju.

Di Amerika Serikat, ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) meningkat akibat naiknya risiko inflasi serta ketidakpastian arah kebijakan perdagangan dan fiskal.

Volatilitas pasar keuangan global juga tetap tinggi yang ditandai menguatnya fenomena flight to safety, penguatan dolar Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil obligasi, serta tekanan terhadap aliran modal ke negara berkembang.

Memasuki Juli 2026, risiko global kembali meningkat akibat berlanjutnya konflik Amerika Serikat dan Iran.

Lalu lintas di Selat Hormuz yang sempat membaik setelah interim deal pada pertengahan Juni 2026 kembali memburuk seiring meningkatnya intensitas perang pada awal Juli 2026.

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook Update edisi Juli 2026 memprakirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3 persen secara tahunan pada 2026.

Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan April 2026 sebesar 3,1 persen akibat inflasi global yang kembali meningkat.

Ekonomi Domestik Diprakirakan Tetap Tumbuh Kuat

Di tengah tantangan global, ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 diprakirakan tetap tumbuh kuat dengan daya beli masyarakat yang tetap terjaga.

Konsumsi rumah tangga didukung oleh peran APBN sebagai shock absorber melalui program perlindungan sosial serta kebijakan stabilisasi harga pangan dan energi.

Pemerintah juga terus mendorong penciptaan lapangan kerja serta memberikan stimulus ekonomi selama periode libur sekolah.

Investasi diperkirakan tetap tumbuh kuat berkat proyek hilirisasi bernilai tambah tinggi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pemerintah.

Konsumsi pemerintah diprakirakan tumbuh positif yang didukung percepatan belanja program prioritas, pembayaran gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), serta penyaluran bantuan sosial.

Koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas perekonomian dan sektor perbankan.

Pertumbuhan uang primer (M0) tetap tinggi sepanjang triwulan II 2026 dan mencapai 15,4 persen pada minggu ketiga Juli 2026.

KSSK juga menilai fungsi intermediasi perbankan semakin membaik.

Aktivitas manufaktur yang sempat mengalami moderasi pada akhir triwulan II 2026 kembali berekspansi pada Juli 2026 dengan PMI Manufaktur berada di level 50,2 yang menunjukkan pemulihan optimisme pelaku usaha.

KSSK menegaskan sinergi kebijakan antaranggota akan terus diperkuat untuk menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

"Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2026 diprakirakan berada dalam kisaran 5,6-6 persen (yoy), ditopang berbagai sinergi kebijakan pemerintah dan lembaga anggota KSSK lainnya untuk menjaga berlanjutnya momentum pertumbuhan," ungkapnya.

Penulis :
Leon Weldrick