HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp17.997 per Dolar AS Seiring Membaiknya PMI Manufaktur dan Sentimen Global

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Rupiah Menguat ke Rp17.997 per Dolar AS Seiring Membaiknya PMI Manufaktur dan Sentimen Global
Foto: Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa 12/5/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 25 poin atau 0,14 persen pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026, sehingga berada di level Rp17.997 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp18.022 per dolar AS.

Penguatan Rupiah Ditopang Perbaikan PMI Manufaktur

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah dipengaruhi oleh membaiknya Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia.

Berdasarkan laporan S&P Global Indonesia, PMI Manufaktur Indonesia naik menjadi 50,2 pada Juli 2026 setelah sebelumnya berada di level 46,9 pada Juni 2026.

Kenaikan PMI ke atas level 50 menandakan kondisi operasional sektor manufaktur kembali mengalami perbaikan pada awal kuartal III 2026.

"Angka di atas level 50 menunjukkan kondisi operasional manufaktur kembali membaik pada awal kuartal III/2026," ungkap Ibrahim Assuaibi.

Perbaikan sektor manufaktur didukung oleh kembali tumbuhnya volume produksi setelah sebelumnya mengalami kontraksi selama empat bulan berturut-turut.

S&P Global mencatat peningkatan produksi didorong oleh membaiknya kondisi permintaan serta meningkatnya kepercayaan pelanggan.

Meski demikian, kenaikan harga bahan baku masih menjadi faktor yang menahan laju ekspansi sektor manufaktur.

Sentimen Domestik dan Global Turut Mendukung

Sentimen domestik lainnya berasal dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (month to month/MtM) pada Juni 2026 setelah pada Mei 2026 mencatat inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan.

Dari sisi global, sentimen positif berasal dari Amerika Serikat setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan militer besar-besaran terhadap Iran menyusul permintaan negara-negara di Timur Tengah untuk memberikan waktu bagi proses negosiasi.

"Pernyataan tersebut memicu penurunan tajam harga minyak sebesar lebih dari 5 dolar AS per barel pada awal perdagangan di Asia, sekaligus meredakan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan yang berkepanjangan akan mempertahankan tingkat inflasi yang tinggi dan memperkuat alasan bagi penerapan kebijakan moneter yang lebih ketat," kata Ibrahim Assuaibi.

Penurunan harga minyak dunia meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi berkepanjangan serta mengurangi tekanan inflasi global yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral.

Sebagai informasi tambahan, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat ke level Rp17.991 per dolar AS pada Senin dari posisi sebelumnya Rp18.058 per dolar AS.

Penulis :
Leon Weldrick