
Pantau - Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi dan dunia industri menjadi langkah penting untuk mengatasi ketidaksesuaian (mismatch) antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja di Indonesia.
Ketidaksesuaian Kompetensi Jadi Pekerjaan Rumah
Yassierli mengungkapkan berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, sekitar 33,5 persen lulusan perguruan tinggi bekerja tidak sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari.
“Ada mismatch yang menjadi PR (pekerjaan rumah) kita bersama. Perguruan tinggi menghasilkan lulusan, namun seringkali tidak nyambung dengan kebutuhan industri. Inilah mengapa kampus harus selalu dekat dengan industri,” ungkap Yassierli.
Menurutnya, kolaborasi tersebut perlu dibarengi dengan transformasi pendidikan tinggi agar mampu menghasilkan lulusan yang lebih siap memasuki dunia kerja.
Ia menambahkan lulusan tidak hanya perlu memiliki ijazah akademik, tetapi juga kompetensi yang terukur melalui sertifikasi kompetensi.
Kemampuan Nonteknis dan Program Magang Diperkuat
Yassierli mengatakan perguruan tinggi juga perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan komunikasi, kolaborasi, empati, serta berpikir kritis yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
“Mahasiswa juga didorong memiliki kombinasi beberapa kompetensi spesifik yang didukung satu kompetensi umum (M-Shaped), sehingga lebih adaptif menghadapi perkembangan dunia kerja dibanding hanya mengandalkan satu spesialisasi,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kesiapan kerja lulusan, Kementerian Ketenagakerjaan terus memperluas Program Magang Nasional (MagangHub) untuk memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan dan industri.
- Penulis :
- Aditya Yohan



