
Pantau - Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mendorong kolaborasi subsektor kuliner dan penerbitan melalui konsep library-cafe sebagai sumber nilai tambah baru bagi pelaku usaha sekaligus sarana memperkuat budaya literasi masyarakat.
Dukungan tersebut disampaikan seiring pembukaan AKC Library & Cafe di Jakarta yang menggabungkan ruang baca, tempat diskusi, dan usaha kuliner dalam satu kawasan.
“Integrasi antara ruang baca dan sajian kuliner ini merupakan inovasi segar yang mencerminkan masa depan industri kreatif kita. Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, nilai tambah produk lokal dapat meningkat secara eksponensial guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Riefky dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).
Menurut Riefky, integrasi kuliner dan penerbitan strategis untuk memperluas ekosistem ruang baca publik melalui adopsi model bisnis library-cafe yang semakin diminati masyarakat.
Model tersebut memungkinkan tempat usaha tidak hanya berfungsi sebagai ruang transaksi, tetapi juga menjadi lokasi bertemunya komunitas, gagasan, karya, dan berbagai produk ekonomi kreatif.
Kuliner Jadi Kontributor Terbesar Ekonomi Kreatif
Data Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat subsektor kuliner memberikan kontribusi terbesar terhadap ekonomi kreatif pada 2025 dengan porsi mencapai 41,06 persen dan pertumbuhan sebesar 8,44 persen.
Nilai ekspor subsektor kuliner pada Januari hingga April 2026 tercatat mencapai 0,28 miliar dolar AS.
Sementara itu, subsektor penerbitan berkontribusi sebesar 5,35 persen terhadap ekonomi kreatif pada 2025 dengan pertumbuhan mencapai 3 persen.
Nilai ekspor subsektor penerbitan pada Januari hingga April 2026 tercatat sebesar 4,47 juta dolar AS.
Riefky menilai kombinasi kedua subsektor tersebut dapat membuka peluang baru bagi pertumbuhan industri kreatif sekaligus menyediakan ruang edukasi bagi masyarakat.
“Kami berharap AKC Library & Cafe dapat menjadi inkubator kreativitas tempat para pelaku industri saling bertukar gagasan dan menciptakan karya nyata, Kementerian Ekraf akan terus mendukung inisiatif serupa demi memperluas akses masyarakat terhadap ruang edukasi yang berkualitas," ujar Teuku Riefky.
AKC Library & Cafe Jadi Ruang Literasi dan Diskusi
AKC Library & Cafe merupakan ruang publik berkonsep klub buku dan kafe kebijakan luar negeri pertama di Jakarta yang diinisiasi diplomat senior Indonesia Dino Patti Djalal.
Tempat tersebut menyediakan ruang membaca, menulis, dan diskusi mengenai isu global serta koleksi buku nonfiksi yang berasal dari donasi tokoh nasional, pemikir strategis, dan diplomat.
Dino menjelaskan nama AKC merupakan akronim dari nama ketiga anaknya, yakni Alexa, Keanu, dan Chloe.
“Visi saya benar-benar adalah ingin menjadikan tempat ini sebagai wadah bagi anak-anak muda untuk datang, berpikir, dan menulis. Mengingat ide membaca dan menulis adalah hal yang indah, kami hadir bukan untuk mencari uang, melainkan agar orang-orang bisa menemukan diri mereka di sini,” tutur Dino Patti Djalal.
Kemenekraf Dorong Model Serupa Berkembang di Daerah
Keterlibatan diplomat dan tokoh nasional dalam pengembangan ruang tersebut diharapkan dapat memperkuat jejaring kemitraan global sekaligus membangun model kolaborasi donasi buku bagi pegiat literasi binaan Kementerian Ekonomi Kreatif.
Kementerian Ekonomi Kreatif berharap kolaborasi lintas subsektor dengan konsep serupa dapat berkembang di berbagai daerah untuk menciptakan lebih banyak ruang kreatif dan memperluas peluang usaha bagi pelaku ekonomi kreatif.
- Penulis :
- Aditya Yohan



