
Pantau - Nilai tukar rupiah melemah 40 poin atau 0,23 persen menjadi Rp17.795 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp17.755 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai ketidakpastian geopolitik kembali memberikan tekanan terhadap rupiah karena turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar di tengah ketidakpastian geopolitik di Timteng yang kembali menaikkan harga minyak mentah dunia. Saat ini 83,21 dolar AS per barel dibandingkan penutupan minggu lalu di 77 dolar AS per barel,” ujar dia kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Ketegangan Selat Hormuz Membayangi Pasar
Ketidakpastian di Timur Tengah turut dipengaruhi perkembangan mengenai pelayaran melalui Selat Hormuz yang masih mengalami kebuntuan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali hingga AS memenuhi tuntutan Iran, termasuk mengakhiri blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran.
Iran telah melakukan perundingan dengan Oman dan mencapai kesepahaman mengenai peta jalur pelayaran, sementara konsultasi masih berlangsung untuk menyelesaikan sejumlah persoalan teknis dalam pernyataan bersama.
Sejumlah mekanisme juga akan dibentuk untuk memastikan keselamatan lalu lintas maritim, melindungi lingkungan, serta menangani “kejahatan maritim.”
Rupiah Diprediksi Bergerak hingga Rp17.850
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar tengah menantikan data penjualan ritel yang diperkirakan tumbuh sebesar 1,8 persen.
Pergerakan harga minyak dunia dan perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi faktor yang turut diperhatikan pasar dalam menentukan arah rupiah terhadap dolar AS.
Berdasarkan sejumlah faktor tersebut, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.850 per dolar AS.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



