HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.869 per Dolar AS, Geopolitik Timur Tengah Jadi Sorotan Pasar

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp17.869 per Dolar AS, Geopolitik Timur Tengah Jadi Sorotan Pasar
Foto: (Sumber :Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 52 poin atau 0,29 persen menjadi Rp18.066 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp18.014 per dolar AS. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye.)

Pantau - Nilai tukar rupiah melemah 8 poin atau 0,04 persen menjadi Rp17.869 per dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Rabu (12/8/2026), di tengah perkembangan geopolitik Timur Tengah yang masih memberikan sinyal beragam kepada pasar.

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp17.861 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan pergerakan rupiah cenderung konsolidatif karena pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah.

"Rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif di tengah perkembangan geopolitik di Timteng yang masih memberikan sinyal beragam," ujar Lukman.

Iran dan AS Disebut Mendekati Kesepakatan

Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan Iran dan Amerika Serikat hampir mencapai kesepakatan meskipun kedua negara masih bersikap keras terkait kebuntuan di Selat Hormuz.

Sumber Pemerintah Pakistan menyebut Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi akan menyampaikan sejumlah usulan baru kepada para pemimpin Iran untuk mengatasi kebuntuan yang berdampak terhadap ekonomi dan perdagangan global.

"Laporan dari Pakistan mengindikasikan bahwa proses menuju kesepakatan damai kembali menunjukkan perkembangan positif, sementara Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum sejumlah persyaratan terpenuhi," ungkap Lukman.

Di tengah perkembangan tersebut, investor juga cenderung mengambil sikap wait and see menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat.

"Keduanya baik inflasi utama dan inti diperkirakan akan turun, inflasi YoY (year on year) diperkirakan turun dari 2,6 persen ke 2,5 persen, sedangkan inti YoY turun dari 3,5 persen ke 3,4 persen," kata Lukman.

Pasar Menanti Pengumuman MSCI

Dari dalam negeri, investor turut menantikan pengumuman Morgan Stanley Capital International atau MSCI yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar.

"Pengumuman MSCI tentunya masih tanda tanya, namun salah satunya adalah tidak akan ada saham baru yang dimasukkan," ujar Lukman.

Dengan mempertimbangkan sentimen geopolitik, data inflasi AS, dan faktor domestik tersebut, Lukman memprediksi rupiah bergerak pada kisaran Rp17.750 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Penulis :
Ahmad Yusuf