HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.879 per Dolar AS, Ketidakpastian Iran dan Selat Hormuz Menekan Pasar

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp17.879 per Dolar AS, Ketidakpastian Iran dan Selat Hormuz Menekan Pasar
Foto: (Sumber :Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye..)

Pantau - Nilai tukar rupiah melemah dua poin atau 0,01 persen menjadi Rp17.879 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (13/8/2026), dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.877 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan rupiah masih mendapat tekanan dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

“Rupiah masih menghadapi tekanan dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama perkembangan terkait Iran dan Selat Hormuz yang berpotensi mempengaruhi pasokan serta harga energi,” ucap Amru di Jakarta, Kamis.

Ketegangan Iran dan Selat Hormuz Tekan Rupiah

Ketidakpastian terkait Iran dan Selat Hormuz menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pergerakan mata uang domestik karena berpotensi berdampak terhadap pasokan dan harga energi dunia.

Iran mengajukan enam syarat yang harus dipenuhi AS agar Selat Hormuz dapat kembali dibuka.

Syarat tersebut antara lain penghentian ancaman terhadap pemimpin tertinggi Iran, penghentian permanen aksi militer terhadap Iran dan sekutunya, serta penarikan kekuatan laut dan udara AS yang terlibat dalam blokade terhadap Iran.

Teheran juga meminta kompensasi atas kerugian selama konflik, pencabutan sanksi AS, serta pembebasan aset Iran yang dibekukan.

Iran juga tengah menyiapkan rancangan undang-undang yang melarang kapal militer dan komersial dari negara yang dianggap sebagai musuh memasuki Selat Hormuz tanpa persetujuan Teheran.

Pasar Pantau Kebijakan Suku Bunga The Fed

Selain ketegangan geopolitik, pelaku pasar mencermati data indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS pada Juli yang naik 0,1 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan.

Inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi meningkat 0,2 persen secara bulanan dan 2,5 persen secara tahunan.

Inflasi tahunan, baik secara umum maupun inti, tercatat sedikit melandai dibandingkan Juni.

Setelah data tersebut dirilis, pasar uang meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan tingkat suku bunga kebijakan pada pertemuan September.

Fed Fund Futures memperhitungkan probabilitas sekitar 60 persen bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5-3,75 persen, meningkat dibandingkan prediksi pekan sebelumnya yang berada di atas 45 persen.

Rupiah Diproyeksikan Bergerak Konsolidatif

Amru memperkirakan pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi perkembangan geopolitik dan sentimen kebijakan moneter AS.

“Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif dengan peluang penguatan terbatas di kisaran Rp17.750 - Rp17.850 per dolar AS,” ungkap Amru.

Perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga energi, serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve menjadi sejumlah faktor yang akan terus dicermati pelaku pasar.

Penulis :
Ahmad Yusuf