HOME  ⁄  Ekonomi

Transaksi UMKM BISA Ekspor Tembus Rp4,49 Triliun dalam Enam Bulan, Lampaui Capaian 2025

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Transaksi UMKM BISA Ekspor Tembus Rp4,49 Triliun dalam Enam Bulan, Lampaui Capaian 2025
Foto: Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan sambutan dalam Peluncuran Program Akselerasi Produk Lokal, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Kamis 13/8/2026 (sumber: ANTARA/Aria Ananda)

Pantau - Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut nilai transaksi melalui Program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor atau UMKM BISA Ekspor mencapai 251 juta dolar AS atau sekitar Rp4,49 triliun sepanjang Januari-Juni 2026.

Capaian dalam enam bulan tersebut telah melampaui total transaksi sepanjang 2025 yang tercatat sebesar 134,87 juta dolar AS atau sekitar Rp2,41 triliun.

Budi menyampaikan capaian tersebut dalam Peluncuran Program Akselerasi Produk Lokal di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026.

Sekitar 60-70 persen UMKM yang difasilitasi melalui program tersebut merupakan pelaku usaha yang sebelumnya belum pernah melakukan ekspor.

"Tahun ini Januari-Juni itu malah (transaksi) sudah 251 juta dolar AS. Itu UMKM yang 60-70 persen belum pernah ekspor. Kita fasilitasi dan tidak pernah ketemu, ya cuma online saja," kata Budi.

Perwakilan Perdagangan Carikan Pembeli di Luar Negeri

UMKM BISA Ekspor merupakan program Kementerian Perdagangan yang ditujukan untuk membantu pelaku UMKM memperoleh akses ke pasar internasional.

Melalui program tersebut, pelaku UMKM dapat mempresentasikan produknya kepada perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri, termasuk Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).

Setelah memperoleh informasi mengenai produk yang ditawarkan, perwakilan perdagangan akan membantu mencarikan calon pembeli atau buyer yang berpotensi melakukan transaksi.

Pelaku UMKM kemudian memperoleh kesempatan untuk kembali mempresentasikan produknya secara langsung kepada calon pembeli yang telah ditemukan.

"Bapak Ibu tinggal presentasi ke perwakilan kita di luar negeri ke Atase Perdagangan, ITPC ya. Nanti perwakilan kita, ada ITPC, kemudian mencarikan pembeli. Setelah dapat pembeli, Bapak Ibu nanti presentasi lagi ke pembeli," ujar Budi.

Fasilitasi ekspor tersebut didukung jaringan 46 perwakilan perdagangan Indonesia yang tersebar di 33 negara.

Jaringan itu membantu UMKM memperoleh informasi mengenai karakteristik dan peluang pasar tujuan ekspor sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli.

Transaksi Semester I Sudah Capai 83,7 Persen Proyeksi 2026

Sepanjang 2025, Program UMKM BISA Ekspor telah memfasilitasi sebanyak 1.217 pelaku usaha dengan total transaksi 134,87 juta dolar AS atau sekitar Rp2,41 triliun.

Dari nilai tersebut, pesanan pembelian atau purchase order mencapai 57,45 juta dolar AS atau sekitar Rp1,03 triliun, sedangkan potensi transaksi tercatat 77,42 juta dolar AS atau sekitar Rp1,38 triliun.

Dengan demikian, transaksi semester I-2026 lebih tinggi sekitar 116,13 juta dolar AS dibandingkan total transaksi yang dicatat sepanjang 2025.

Budi pada Juli 2026 juga menyampaikan optimisme nilai transaksi UMKM BISA Ekspor dapat mencapai sekitar 300 juta dolar AS atau sekitar Rp5,36 triliun sepanjang tahun ini.

Capaian 251 juta dolar AS hingga Juni 2026 berarti telah setara dengan sekitar 83,7 persen dari angka yang diproyeksikan tersebut.

E-Commerce Jadi Pintu Awal UMKM Menembus Pasar Ekspor

Budi menilai platform perdagangan elektronik atau e-commerce dapat menjadi salah satu pintu awal bagi UMKM Indonesia untuk memasuki pasar ekspor.

Melalui platform tersebut, pelaku UMKM dapat mengawali ekspor dari transaksi ritel dalam jumlah kecil kepada konsumen di negara lain.

Transaksi pembelian satuan itu berpeluang berkembang menjadi hubungan perdagangan antarpelaku usaha atau business-to-business (B2B) apabila pembelinya merupakan importir yang tertarik dengan kualitas produk UMKM.

"Yang membeli itu bisa jadi sebenarnya importir. Yang membeli importir kemudian tahu produknya bagus, nanti komunikasi akhirnya bisa ekspor," kata Budi.

Penulis :
Arian Mesa