HOME  ⁄  Ekonomi

Purbaya Menolak Tawaran Pinjaman IMF dan Bank Dunia di Tengah Tekanan Rupiah

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Purbaya Menolak Tawaran Pinjaman IMF dan Bank Dunia di Tengah Tekanan Rupiah
Foto: (Sumber :Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) melakukan pertemuan strategis dengan Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva (kanan) di tengah rangkaian agendanya di Washington DC, Amerika Serikat. ANTARA/HO-Kementerian Keuangan/aa..)

Pantau - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia senilai 20 miliar hingga 30 miliar dolar AS karena Indonesia disebut masih memiliki persediaan dana hampir 25 miliar dolar AS.

Penolakan tersebut disampaikan dalam Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia yang berlangsung pada 13-17 April 2026 di Washington DC, Amerika Serikat.

Keputusan itu kembali menjadi sorotan ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak fluktuatif dan berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS di pasar valuta asing pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Sejumlah pengamat menyebut tekanan terhadap rupiah dipengaruhi sentimen global, termasuk ketidakpastian geopolitik dan antisipasi pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat, bukan faktor fundamental ekonomi domestik.

Krisis 1997-1998 Menjadi Catatan Hubungan Indonesia dengan IMF

Indonesia pernah menerima bantuan IMF ketika krisis finansial Asia melanda dan nilai tukar rupiah merosot tajam dari sekitar Rp2.500 menjadi sekitar Rp13.673 per dolar AS.

Presiden Soeharto menerima tawaran IMF setelah mendapat saran dari tim ekonomi, termasuk Widjojo Nitisastro.

Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Sudradjat Djiwandono kemudian menandatangani Letter of Intent (LoI) pertama pada 31 Oktober 1997.

Kesepakatan tersebut dilanjutkan dengan LoI kedua pada 15 Januari 1998 yang memuat sekitar 50 butir kebijakan, termasuk reformasi struktural, restrukturisasi perbankan, pengetatan fiskal dan moneter, serta liberalisasi ekonomi.

Penutupan 16 bank berdasarkan anjuran IMF kemudian memicu kepanikan atau rush di tengah krisis yang berlangsung.

Steve Hanke Mengusulkan Currency Board System

Di tengah kondisi tersebut, Soeharto kemudian berdiskusi dengan Fuad Bawazier yang memiliki pandangan berbeda terkait penanganan krisis menggunakan bantuan IMF.

Melalui Fuad Bawazier, Rini Soemarno, dan Renee Zecha, Soeharto diperkenalkan kepada Guru Besar Ekonomi Johns Hopkins University Steve Hanke.

Hanke kemudian menyarankan penerapan Currency Board System (CBS) sebagai alternatif kebijakan moneter untuk mematok rupiah terhadap mata uang asing, termasuk dolar AS.

Usulan tersebut muncul ketika nilai rupiah berada dalam tekanan berat pada kisaran Rp13.673 per dolar AS.

Penulis :
Ahmad Yusuf