
Pantau - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat mencatat nilai transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mencapai Rp6,5 triliun hingga Juni 2026 atau melonjak 112,04 persen secara tahunan.
Volume transaksi QRIS di Kalimantan Barat pada periode tersebut mencapai 62,9 juta transaksi atau tumbuh 131,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Jumlah pengguna QRIS juga telah mencapai 875,4 ribu orang atau meningkat 18,3 persen secara tahunan dan setara sekitar 24 persen dari populasi dewasa di Kalimantan Barat.
Pedagang QRIS Tembus 552 Ribu
Kepala Perwakilan BI Kalbar Doni Septadijaya mengatakan jumlah pedagang yang menerima QRIS hingga Juni 2026 mencapai 552.673 atau naik 28,94 persen secara tahunan.
"Sedangkan untuk merchant QRIS hingga Juni 2026 mencapai 552.673 merchant atau naik 28,94 persen secara year on year, dengan 74,17 persen di antaranya merupakan usaha mikro," kata Doni dalam rangkaian Pontianak Carnaval Khatulistiwa, Pekan QRIS Nasional, dan Festival Rupiah Berdaulat 2026 di Pontianak, Senin (17/8/2026).
Perkembangan tersebut menunjukkan penerimaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap sistem pembayaran digital semakin luas di Kalimantan Barat.
BI terus mendorong penggunaan QRIS di berbagai sektor, mulai dari transportasi darat melalui QRIS Tap DAMRI hingga transportasi air melalui QRIS SAMPAN Bardan-Siantan.
Digitalisasi pembayaran juga diperluas pada sektor ritel modern di Kabupaten Kubu Raya.
Pemda Didorong Perluas Pembayaran Digital
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menilai digitalisasi pembayaran menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat perekonomian daerah.
Melalui Pekan QRIS Nasional 2026, pemerintah kabupaten dan kota didorong memperluas penggunaan QRIS untuk pembayaran pajak, retribusi, pasar, parkir, pariwisata, dan berbagai layanan publik.
Norsan juga menyoroti besarnya potensi ekonomi kreatif Kalimantan Barat pada subsektor kuliner, kriya, seni pertunjukan, musik, serta fesyen berbasis wastra daerah.
Potensi tersebut dinilai perlu dikembangkan dengan melibatkan generasi muda agar mampu menghasilkan produk berkualitas dan berdaya saing.
"Di saat yang sama, industri perbankan diharapkan terus menjaga keandalan sistem, memperluas edukasi digital, serta memberikan dukungan bagi pengembangan UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah)," ujar Norsan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




