
Pantau - Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menilai penguatan rantai nilai halal atau halal value chains dapat mendorong kontribusi ekosistem industri halal terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan mengatakan sekitar 27 persen PDB Indonesia berdasarkan data triwulan III 2025 berkaitan dengan aktivitas dalam rantai nilai halal.
Haikal mengungkapkan, “Sebesar 27 persen PDB Indonesia itu ada kaitannya dengan halal value chains. Ini menunjukkan bahwa halal bukan hanya urusan sertifikasi, tetapi memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi nasional.”
Menurut Haikal, angka tersebut menunjukkan halal tidak lagi hanya berkaitan dengan sertifikasi atau pemenuhan kebutuhan konsumen Muslim, tetapi telah menjadi bagian dari aktivitas produksi, perdagangan, investasi, hingga rantai nilai.
Haikal mengatakan industri halal selama ini masih kerap dipahami hanya sebatas sektor makanan dan minuman, padahal ruang pengembangannya mencakup berbagai sektor dengan nilai ekonomi besar.
“Halal itu jangan hanya dipahami sebatas makanan dan minuman saja. Itu baru sebagian kecil. Masih banyak peluang dan potensi halal yang bisa dikembangkan,” kata Haikal.
Besarnya potensi tersebut, menurut Haikal, perlu diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi yang lebih nyata melalui pengembangan berbagai aspek industri halal.
“Penguatan industri halal tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah produk bersertifikat halal, tetapi juga perlu diarahkan pada penguatan kapasitas produksi, perdagangan, investasi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan daya saing produk Indonesia,” kata dia.
Meningkatnya kebutuhan global terhadap produk dan jasa yang memenuhi standar halal dinilai menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia.
Haikal mengatakan pasar domestik yang besar, sumber daya yang beragam, dan jumlah pelaku usaha yang terus berkembang menjadi modal bagi Indonesia untuk berperan sebagai produsen dan pemain penting dalam industri halal global.
Ia juga mengingatkan besarnya pasar domestik tidak boleh membuat Indonesia hanya berperan sebagai konsumen produk halal.
“Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar. Kita harus menjadi produsen. Potensi yang kita punya harus kita manfaatkan untuk membangun industri, membuka lapangan kerja, meningkatkan perdagangan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




