HOME  ⁄  Ekonomi

Ekonom Menilai Penguatan Pendapatan dan Lapangan Kerja Berkualitas Dapat Menjaga Konsumsi Rumah Tangga

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Ekonom Menilai Penguatan Pendapatan dan Lapangan Kerja Berkualitas Dapat Menjaga Konsumsi Rumah Tangga
Foto: (Sumber :Pencari kerja menyiapkan berkas lamaran kerja saat menghadiri pameran bursa kerja di Graha Sanusi Universitas Padjadjaran (UNPAD), Bandung, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026). Pemerintah Kota Bandung menggelar pameran bursa kerja dengan menyediakan sebanyak 2.288 lowongan pekerjaan dari 25 perusahaan yang digelar sebagai pemenuhan lapangan kerja profesional di Kota Bandung. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/agr.)

Pantau - Ekonom GREAT Institute Trisha Devita Indraswari menilai penguatan fundamental rumah tangga melalui peningkatan pendapatan riil, penciptaan lapangan kerja berkualitas, pengendalian biaya hidup, dan pemulihan keyakinan ekonomi diperlukan untuk menjaga konsumsi masyarakat pada semester II 2026.

Trisha mengatakan konsumsi rumah tangga masih tumbuh dan menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia pada paruh pertama 2026, tetapi sejumlah indikator menunjukkan pelemahan daya beli dan meningkatnya kehati-hatian masyarakat dalam berbelanja.

“Konsumsi memang masih tumbuh, tetapi rumah tangga mulai semakin selektif dalam membelanjakan pendapatannya. Ketika penjualan ritel melemah setelah momentum musiman berakhir, ini menunjukkan bahwa daya dorong konsumsi belum cukup kuat untuk bertahan secara konsisten,” ujar Trisha dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (31/8/2026).

Laporan GREAT Mid-Year Economic Outlook 2026 mencatat konsumsi rumah tangga secara riil meningkat menjadi sekitar Rp1.887,7 triliun pada paruh pertama tahun ini.

Namun, setelah menguat pada momentum Ramadhan dan Idul Fitri, pertumbuhan penjualan ritel kembali melemah hingga terkontraksi 3,9 persen secara tahunan pada Mei 2026.

Trisha menilai kondisi tersebut menunjukkan konsumsi perlu dilihat tidak hanya berdasarkan pertumbuhan agregat, tetapi juga melalui perubahan perilaku belanja masyarakat.

Menurut dia, keputusan konsumsi rumah tangga dipengaruhi pendapatan yang diterima pada suatu periode serta persepsi terhadap pendapatan yang dapat dipertahankan pada masa mendatang atau permanent income.

Ketika masyarakat menilai pendapatan dan kondisi pekerjaan pada masa depan semakin tidak pasti, kenaikan pendapatan sementara belum tentu langsung meningkatkan konsumsi.

Perubahan perilaku tersebut tercermin pada Indeks Keyakinan Konsumen yang turun dari 127,0 pada Januari menjadi 117,8 pada Juni 2026 meskipun masih berada dalam zona optimistis.

Trisha menilai pelemahan keyakinan konsumen dapat mendorong rumah tangga meningkatkan precautionary saving dengan menahan sebagian pendapatan sebagai bantalan menghadapi ketidakpastian.

Kondisi itu menunjukkan daya beli tidak hanya berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk melakukan konsumsi saat ini atau ability to spend, tetapi juga kemauan membelanjakan pendapatan atau willingness to spend.

Kehati-hatian rumah tangga juga terlihat pada pembelian aset bernilai besar karena penjualan rumah primer terkontraksi 25,67 persen secara tahunan pada triwulan I 2026, sedangkan pertumbuhan KPR/KPA terus melambat hingga satu digit.

“Pembelian rumah memberikan sinyal yang lebih kuat mengenai keyakinan rumah tangga dibandingkan konsumsi sehari-hari. Ketika masyarakat merasa pendapatan dan pekerjaannya cukup aman, mereka lebih berani mengambil komitmen jangka panjang. Sebaliknya, ketika ketidakpastian meningkat, pembelian bernilai besar menjadi salah satu yang pertama ditunda,” jelas Trisha.

Meski demikian, tekanan konsumsi belum terjadi secara menyeluruh karena rumah tangga masih mempertahankan pengeluaran untuk kebutuhan dasar.

Penyesuaian belanja lebih banyak terjadi pada pengeluaran sekunder, barang tahan lama, dan pembelian yang membutuhkan pembiayaan jangka panjang.

Menurut Trisha, konsumsi dalam jangka pendek masih dapat bertahan melalui penggunaan tabungan atau perubahan komposisi pengeluaran rumah tangga.

Keberlanjutan konsumsi dinilai akan sangat bergantung pada pertumbuhan pendapatan riil, kepastian pekerjaan, ekspektasi ekonomi, dan ketahanan keuangan masyarakat.

“Konsumsi masih resilien, tetapi resiliensi itu tidak tanpa batas. Yang perlu dijaga bukan hanya kemampuan masyarakat untuk berbelanja hari ini, tetapi juga keyakinan mereka bahwa pendapatan dan pekerjaan akan tetap terjaga ke depan,” kata Trisha.

GREAT Institute menilai upaya mempertahankan konsumsi rumah tangga pada semester II 2026 membutuhkan kebijakan yang lebih berorientasi pada penguatan fundamental rumah tangga.

Penciptaan pekerjaan berkualitas, peningkatan pendapatan riil, pengendalian biaya hidup, serta pemulihan keyakinan terhadap prospek ekonomi dinilai penting agar konsumsi tetap menjadi fondasi pertumbuhan tanpa terlalu bergantung pada stimulus maupun momentum musiman.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026