
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia menguat 12,64 poin atau 0,19 persen ke posisi 6.538,12 pada perdagangan Selasa (1/9/2026) pagi di tengah sikap pelaku pasar yang menunggu rilis sejumlah data ekonomi domestik dan global.
Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut naik 0,92 poin atau 0,14 persen ke posisi 644,75.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan pergerakan IHSG akan berada dalam fase konsolidasi pada perdagangan Selasa.
"Diperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran level 6.450-6.570 pada perdagangan Selasa," ujar Ratna.
Investor Menanti Data Inflasi dan Neraca Perdagangan
Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan data inflasi Indonesia yang diperkirakan mencapai 0,2 persen secara bulanan pada Agustus 2026 setelah mencatat deflasi 0,14 persen pada Juli 2026.
Secara tahunan, inflasi Agustus 2026 diperkirakan meningkat menjadi 3,13 persen dari 2,88 persen pada Juli 2026.
Inflasi inti juga diperkirakan naik menjadi 2,8 persen secara tahunan pada Agustus 2026 dibandingkan 2,76 persen pada bulan sebelumnya.
Pelaku pasar turut menantikan data neraca perdagangan yang diperkirakan mencatat defisit 0,3 miliar dolar AS pada Juli 2026 setelah defisit 0,45 miliar dolar AS pada Juni 2026.
Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia diperkirakan naik menjadi 50,5 pada Agustus 2026 dari 50,2 pada Juli 2026.
Dari China, pasar menantikan data RatingDog Manufacturing PMI yang diperkirakan meningkat menjadi 51 pada Agustus 2026, sedangkan indeks kepercayaan konsumen Jepang diproyeksikan naik menjadi 35.
Konflik AS-Iran dan Kebijakan The Fed Jadi Perhatian
Pelaku pasar juga mencermati inflasi kawasan Euro yang diperkirakan meningkat menjadi 3,3 persen secara tahunan pada Agustus 2026 dari 2,9 persen pada Juli 2026.
Dari Amerika Serikat, indeks ISM Manufacturing PMI diperkirakan turun menjadi 55,2 pada Agustus 2026 dari 55,6 pada Juli 2026, sementara jumlah lowongan pekerjaan diproyeksikan mencapai 7,3 juta pada Juli 2026.
Serangan Amerika Serikat terhadap Iran turut menjadi perhatian setelah memicu kenaikan harga minyak yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi apabila bertahan dalam waktu lama.
Harga minyak mentah ditutup menguat lebih dari 2 persen pada Senin (31/8/2026) setelah pasukan AS menyerang dua peluncur roket Iran di Pulau Larak.
Bank sentral AS The Fed juga mengisyaratkan fokus lebih besar pada upaya menurunkan inflasi menuju target sehingga meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada September 2026.
Investor turut memantau pertemuan menteri keuangan, gubernur bank sentral, dan pejabat negara G20 di Asheville, Carolina Utara, serta menunggu data non-farm payrolls AS yang dijadwalkan dirilis Jumat (4/9/2026).
Bursa Wall Street pada Senin ditutup melemah dengan S&P 500 turun 0,33 persen, Nasdaq Composite melemah 0,12 persen, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,70 persen.
Bursa utama Asia juga bergerak melemah pada Selasa pagi dengan Nikkei turun 0,33 persen, Shanghai 0,17 persen, Kospi 0,52 persen, Hang Seng 1,22 persen, dan Straits Times 0,48 persen.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




